JOGJA – Denda sidang tindak pidana ringan (Tipiring) bagi para juru parkir (jukir) illegal, maupun yang menerapkan tarif di atas ketentuan, terbukti tidak membuat efek jera. Terbaru, dari postingan di media sosial terungkap adanya praktek parkir ilegal di eks Bioskop Indera.

Dari unggahan sosial media, pemilik kendaraan keberatan dengan tarif sebesar Rp 15 ribu untuk mobil, kemarin (11/2). Padahal lokasi tersebut tidak termasuk lahan parkir. Dan sesuai aturan Perda No 4 tahun 2012 tentang Retribusi Jasa Usaha untuk mobil hanya dikenai tarif Rp 2 ribu untuk sekali parkir.

Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan Perparkiran Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja Lukman Hidayat tegas menyatakan lokasi tersebut bukan lahan parkir. Saat dicek status lahan masih dalam tahapan pembangunan eks Bioskop Indra. Tapi lahan di depan biasanya dimanfaatkan warga sebagai lahan parkir roda empat.

“Parkirnya sistem lahan pribadi, memang illegal. Kami sampaikan kalau belum ada izin ya tidak boleh jalan. Petugas parkir disini memang rata-rata bekas tukang parkir Bioskop Indra yang lama,” jelasnya saat melakukan inspeksi ke eks Biskop Indera kemarin siang (12/2).

Terkait tarif, Lukman mengakui untuk lahan parkir swasta memang dikenakan tariff progresif. Kelipatan 50 persen dari tarif parkir berdasarkan durasi waktu parkir. “Tapi itu untuk lahan parkir yang memiliki izin. Yang illegal jelas melanggar,” katanya.

Bagi para jukir liar di eks Bioskop Indera, petugas Dishub Kota Jogja langsung memberikan surat peringatan (SP) pertama. Mereka juga diminta untuk datang ke kantor Dishub Kota Jogja.

Ketika dikonfirmasi pihak keamanan Eks Bioskop Indra Agus Edi mengakui tarif kawasan tersebut tinggi. Itu karena mengikuti tarif parkir swasta yang berada di kawasan Malioboro. Dia beralasan jika menerapkan sesuai akan mendapat protes rekan sejawat.

“Kalau misal pasang tarif Rp 5 ribu bisa dimarahi sama yang lain. Akhirnya mengikuti dan sama dengan tarif yang di kawasan Vredeburg dan timur Taman Pintar. Rata-rata untuk kendaraan roda empat Rp 10 ribu,” jelasnya.

Dia berkilah tidak ada pemaksaan dalam menawarkan jasa parkir. Sebelum memarkirkan kendaraan, pemilik terlebih dahulu diberitahu tarif parkir. Jika keberatan, maka pemilik kendaraan bisa mencari lokasi parkir lainnya. Langsung pemakaian tarif parkir tinggi karena pertimbangan lama parkir. Biasanya pengunjung diMalioboro parkir hingga lebih dari dua jam. Waktu tunggu inilah yang membuat tarif meningkat drastis. “Kan lahannya juga sempit,” paparnya.

Posisi Edi sendiri bukan sebagai ketua pengelola parkir. Dia hanya bertugas sebagai keamanan eks Bioskop Indera. Itulah mengapa dia tidak bisa sepenuhnya melarang tarif yang diterapkan. Dia hanya berkilah sebagai pendamping yang memberdayakan pemuda setempat.“Kebanyakan memang pemuda sekitar kampung kawasan Malioboro,” katanya. (dwi/pra/tif)