Kondisi fisiknya memang tak sempurna. Aslimah terlahir tanpa dua kaki. Dia nyaris putus asa. Namun itu tak lama. Aslimah telah bisa menerima kodratnya. Justru itulah kesempurnaan yang terus disyukurinya.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman

SIANG itu Aslimah berada di depan pintu rumahnya. Di atas kursi roda. Menunggu kedatangan Radar Jogja. Wajah perempuan 31 tahun itu tampak semringah begitu melihat tamunya hadir. Senyumnya terkembang. Tak sedikit pun terpancar rasa malu. Akan kondisi fisiknya. Basa-basi sebentar, Aslimah lantas mulai bercerita. Dia tahu kehadiran Radar Jogja memang untuk menggali lebih dalam. Tentang perjuangan hidupnya. Sebagai perempuan mandiri. Meski tak memiliki dua kaki. Sejak lahir. Bisa dibilang, sejak bayi Aslimah hidup hanya dengan separo badan.

Tak disangka, Aslimah pernah mengalami berbagai hinaan dari orang lain. Itu menjadi kendala terberatnya. Sangat mengganggu psikologisnya. Dibanding segala kerepotan yang harus dia hadapi akibat keterbatasan fisiknya. Dia memang tak bisa berjalan layaknya orang normal. Namun bukan berarti dia tak bisa bergerak. Aslimah mengandalkan anggota tubuh lainnya. Berjalan menggunakan kedua tangannya. Meski jari tangan kanannya juga tak sempurna.

Kerap kali Aslimah menerima belas kasihan dari orang-orang di sekitarnya. Tak sedikit yang ingin membernya uang. Karena belas kasihan. Tapi Aslimah tak ingin dikasihani orang lain. Dia tak mau hidup mengandalkan belas kasihan.  “Saya selalu menolak tanpa bermaksud menyakiti hati mereka,” ungkap perempuan asal Dawe, Kudus, Jawa Tengah.

Aslimah pernah menimba ilmu di sekolah umum. Sampai tingkat SMA. Sejak saat itu tekadnya bulat. Tidak ingin menyusahkan kedua orang tua. Dia ingin hidup mandiri. Takad itu dia buktikan. Aslimah lantas mencari tempat tinggal di sekitar sekolahnya. Ditolak. Oleh beberapa pemilik kos yang dia didatangi. Kondisi fisik Aslimah yang tak sempurna selalu menjadi alasan penolakan itu. Tapi hal itu tak membuatnya patah arang.

Semangatnya terus bertubi. Hingga lulus SMA. Saat itu Aslimah tak berniat melanjutkan ke perguruan tinggi. Dia ingin bekerja. Jogjakarta menjadi tujuan perantauannya. Untuk mengikuti pelatihan keterampilan. Di sebuah yayasan bagi penyandang disabilitas.

Hingga dia mampu membuat beragam produk kerajinan. Khususnya berbahan akar wangi. Seperti gantungan kunci, boneka, patung kuda, dan lain-lain. Hanya bermodal nekat dan uang Rp 250 ribu. Dia mulai menekuni usahanya. Tanpa berpikir akan gagal atau berhasil. Bersama suaminya, Wahyu Nugroho, 30, keyakinan Aslimah kian tinggi. Ya, Wahyu adalah tipe lelaki setia yang selalu memanjakan istrinya. Pria asal Semin, Gunungkidul, itu menerima kondisi Aslimah apa adanya. Karena ketulusan hatinya. Hingga wahyu bersedia meminang Aslimah. Keduanya menikah pada 17 Mei 2010. Kini keduanya dikaruniai dua anak.

Cerita soal pernikahan keduanya pun penuh liku. Keduanya bertemu di Kudus pada 2008. Saat bulan puasa. Wahyu sedang berjualan kerajinan akar wangi di acara pasar malam Dandangan (tradisi sambut Ramadan di Kudus). Aslimah tertarik dengan kerajinan yang dijual Wahyu. Aslimah memberikan nomor telepon kepada Wahyu. Dia berjanji membeli produk kerajinan itu. Hingga Wahyu memiliki handphone baru, hubungan keduanya makin intens. Hubungan keduanya kian dekat. Terutama setelah Aslimah tinggal di Jogjakarta. Hingga keduanya memutuskan untuk menikah.

Namun keluarga Wahyu sempat tak merestui pernikahan itu. Karena khawatir keadaan Aslimah akan menjadi beban Wahyu. Hingga suatu saat Aslimah mampu membuktikan tekad dan kegigihannya. Bahwa penyandang disabilitas mampu bekerja dan tidak bergantung dengan orang lain. Semangat Aslimah pun memupus kekhawatiran orang tua Wahyu. Dan merestui pernikahan keduanya. “Saya sudah mematahkan pandangan mereka tentang difabel yang tidak bisa apa-apa,” tegas Aslimah.

Di awal pernikahan Aslimah dan Wahyu sempat mengontrak sebuah rumah sederhana di kawasan Kaliurang, Hargobinangun, Pakem. Rumah itu sekaligus menjadi workshop pembuatan kerajinan akar wangi. Produk kerajinan mereka pasarkan di Taman Kaliurang. Tak jarang Aslimah sendiri yang menjajakannya. Menemani suaminya.

Tiap produk dihargai mulai Rp 10 ribu hingga Rp 150 ribu. Tergantung bahan dan tingkat kesulitannya. Dagangannya kian laris sejak dijadikan souvenir di Museum Ulen Sentalu, Kaliurang, Pakem dan petilasan rumah Mbah Marijan di lereng Merapi.

Aslimah dan Wahyu kompak berbagi tugas. Baik saat membuat produk kerajinan, sampai pemasarannya. Pundi-pundi rupiah mereka kumpulkan. Sedikit demi sedikit. Siapa sangka kini keduanya mampu membeli sebidang tanah dan membangun rumah di Dusun Purwodadi, Pakembinangun, Pakem, Sleman. “Omzet kotor tidak tentu. Paling besar pernah sehari dapat Rp 4 juta. Tapi pernah juga barang tidak terjual,” ucap Aslimah.

Setiap hari keduanya mampu memproduksi 40 boneka dan 100 gantungan kunci. Ke depan Aslimah akan merambah pasar online. Didasari cita-cita mulia. Demi memberdayakan penyandang disabilitas lainnya. Agar bisa hidup mandiri. Seperti dirinya. (yog/tif)