DUA bulan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, keinginan saya untuk keluar dari grup Whatsapp keluarga semakin memuncak. Pasalnya, saban hari glorifikasi terhadap salah satu calon dan penyerangan membabi buta atas calon yang lain terus terulang. Belum lagi kalau informasinya membawa-bawa agama dan nama Tuhan, keinginan untuk memencet tombol “leave group” pun menjadi semakin sulit untuk dinegosiasikan.

Dalam sebuah hoaks yang dikirim oleh seorang anggota grup terlihat ada tulisan dan simbol “forward” yang menunjukkan bahwa dia mendapatkan informasi dari orang lain dan mengirimkannya ke grup keluarga. Saya sendiri tidak tahu apakah dia membaca terlebih dahulu pesan tersebut sebelum membagikannya ke orang lain dan apakah dia berpikir dampak dari pesan berantai itu terhadap anggota grup yang lain. Semoga kita semua terlindungi dari para clicking monkey, yakni mereka yang hobi menyebarkan hoaks tanpa membaca isinya terlebih dahulu.

Di era Post Truth, banyak orang yang cenderung mau menang sendiri. Cambrige Dictionary mendefinisikan Post Truth sebagai situasi dimana orang-orang lebih menerima argumen berdasarkan emosi dan kepercayaan daripada berdasarkan fakta. Definisi tersebut tampaknya memang sulit diingkari. Di Indonesia, fenomena tersebut paling kentara dan gampang dilacak lewat moment Pilpres 2014, Pilkada Jakarta 2016 hingga menjelang Pilpres 2019.

Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media online, Laras Sekarsari PhD, dosen Psikologi Media di Universitas Indonesia mengatakan ada dua hal yang memicu akselerasi penyebaran hoaks di era Post Truth. Pertama, perasaan positif yang muncul akibat afirmasi atas keyakinan seseorang pada hoaks yang diterima. Kedua, keterbatasan pengetahuan dimana seseorang tidak memiliki pengetahuan awal atas informasi sehingga besar kemungkinan untuk menelannya mentah-mentah.

Literasi digital punya peran penting dalam menghentikan laju penyebaran hoaks. Literasi digital merupakan kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan pada tahun 2017 jumlah penetrasi penggunaan internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa atau 54,7 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah tersebut meningkatkan dibandingkan penetrasi pada tahun 2016 yakni 132,7 juta jiwa.Para pengguna internet ini menerima paparan informasi yang begitu banyak setiap hari. Memilah banjir informasi adalah hal yang baik dilakukan. Proses memilah tersebut bisa memicu orang untuk lebih jeli dan berpikir kritis atas informasi yang diterimanya. Oleh karenanya literasi digital perlu diintesifkan

Banyak pihak tengah melakukan upaya literasi digital. Dimulai dari pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi yang menginisiasi Siberkreasi sejak 2017. Lewat beragam kegiatan sosialisasi, Siberkreasi bertujuan mengajak masyarakat untuk tidak menyebarkan konten negatif di internet dan sebaliknya beramai-ramai menyebar konten positif. Misi lainnya adalah memasukkan materi literasi digital dalam kurikulum formal di sekolah.

Dalam sosialisasi literasi digital ini perlu pendetailan terhadap sasaran kegiatan dengan mengumpulkan berbagai data. Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara dalam acara Millenial Fest 2018 di Jakarta menyebutkan bahwa kelompok umur yang lebih sering menyebarkan hoaks secara digital adalah orang tua, sementara milenial tidak terlalu. Hal ini senada dengan penelitian yang baru-baru ini dilakukan di Amerika Serikat oleh sejumlah akademisi di New York University dan Princeton University yang dipublikasi di website Science Advance. Penelitian dalam konteks Pemilihan Presiden AS tahun 2016 tersebut menunjukkan bahwa mereka yang berumur 65 tahun ke atas adalah kelompok usia penyebar hoaks terbanyak (11 persen) dan yang paling sedikit adalah kelompok usia 18-29 tahun (3 persen). Tentu saja penelitian ini tidak bisa menggambarkan secara pasti peta penyebaran hoaks di Indonesia.

Akan tetapi sejauh ini kegiatan sosialisasi literasi digital sejauh ini lebih banyak dilakukan di kalangan pelajar mahasiswa. Penelitian yang dilakukan oleh Novi Kurnia dari Universitas Gadjah Mada dan Santi Indra Astuti dari Universitas Islam Bandung yang melibatkan 56 peneliti dari 26 universitas di Indonesia pada tahun 2017 menunjukkan bahwa kegiatan literasi digital di 9 kota di Indonesia lebih banyak didominasi oleh perguruan tinggi dalam bentuk ceramah. Sementara target sasaran utama adalah remaja/pelajar dan mitra terbanyak berasal dari sekolah. Mengaitkan dengan informasi sebelumnya, literasi digital hendaknya tidak hanya menyasar pada anak muda saja, namun juga difokuskan pada orang tua juga sebab kelompok usia yang lebih rawan terpapar hoaks adalah kelompok orang tua.

Di tingkat kelompok masyarakat, ada konsorsium media online dan organisasi di bidang teknologi, komunikasi dan informasi yang membangun sebuah website bernama www.cekfakta.com sejak tahun 2018. Lewat website tersebut, masyarakat bisa mengkonfirmasi kebenaran sebuah informasi yang didapat dari postingan di media sosial atau media mainstream. Kemudian tim cekfakta.com akan mengkonfirmasi benar tidaknya informasi tersebut ke pihak-pihak terkait dan mempublikasikan hasilnya di laman mereka. Dengan demikian, masyarakat diajak untuk bisa lebih berpikir kritis dan mengecek kebenaran sebuah informasi yang diterima di gadget miliknya.

Hari Pers Nasional

Di era digital, tantangan media memang semakin berat. Persaingan bisnis semakin berat dan pasar juga berubah. Sederet perusahaan media harus melakukan kovergensi untuk bisa survive. Bagi yang masih konvensional diprediksi akan segera bertemu senjakala.

Tapi ada baiknya tak lupa sejarah. Sejarah media di Indonesia tidak semuanya dimulai dengan niat kalkulasi rugi dan laba. Bisnis media punya tanggung jawab moral yang salah satunya adalah sebagai watchdog dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karenanya tidak baik rasanya taken for granted julukan pilar keempat demokrasi. Salah satu bentuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah memerangi hoaks.

Perang melawan hoax sudah didengung-dengungkan sejak Hari Pers Nasional 2017 di Ambon. Aplikasinya pun sudah dilakukan oleh banyak media khususnya media online yang tergabung di cekfakta.com. Ada sekitar 26 media online yang terlibat didalamnya untuk melakukan kerja check and re-check dari hoaks yang beredar di dunia digital.

Akan tetapi yang paling penting adalah memaknai hari pers nasional dan memerangi hoaks adalah dengan kembali memperbaiki produk jurnalisme yang dikeluarkan oleh media. Ada sembilan elemen jurnalisme yang diformulasi oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (Pantau, 2001) yakni; menyampaikan kebenaran, loyalitas pada masyarakat, verifikasi, independensi, menjadi pengawas independen pada kekuasaan, memberikan ruang opini, membuat hal penting menjadi menarik dan relevan, membuat berita tetap komprehensif dan proporsional, serta berkewajiban mendengarkan hati nurani.

Kerja-kerja jurnalistik yang sebenar-benarnya secara tidak langsung mengasah seseorang untuk bisa lebih objektif dan lebih kritis. Bukankan hasil itu yang diinginkan dari literasi digital yang digalakkan selama ini? Dengan menyuguhkan produk jurnalistik yang anti hoaks diharapkan elemen-elemen jurnalistik tersebut pun menular ke masyarakat secara luas. Hasil akhirnya adalah kemampuan memilah dan menyebarkan informasi secara lebih bijak.

Genderang perang melawan hoaks masih harus ditabuh secara serempak oleh masyarakat Indonesia terlebih oleh media massa dengan dimulai dari memperbaiki dari dapur redaksi. (ila)

*Penulis adalah editor bidang pembangunan sosial di perusahaan media monitoring PT Binokular Media Utama, mantan jurnalis Jawa Pos Radar Jogja, alumnus Pascasarjana Fisipol UGM. Opini di atas adalah pandangan pribadi penulis.