SLEMAN – Kesiapan mitigasi bencana erupsi Merapi ternyata masih jauh dari perhatian pemerintah. Bukan hanya lampu penerangan jalan di jalur evakuasi yang tidak memadai. Pun demikian kondisi barak-barak pengungsian. Sedikitnya 12 barak pengungsian minim lampu penerangan. Bahkan akses menuju barak-barak tersebut belum dilengkapi fasilitas jaringan lampu penerangan jalan umum (PJU). Ironisnya, ke-12 barak tersebut milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman.

Kasi PJU, Dinas Perhubungan (Dishub) Sleman Wahyu Estijanto mengaku akan menambah lampu penerangan di 12 barak tersebut. Kendati demikian, hal itu tak bisa dikerjakan secara serempak. Tapi bertahap. Ketersediaan anggaran menjadi alasannya. “Nanti ada yang ditambah satu titik. Ada yang dua. Ini juga sebagai langkah antisipasi saat erupsi Merapi,” ujarnya Kamis (13/2).

Penambahan PJU, lanjut Wahyu, berdasarkan rekomendasi BPBD Sleman. Dari situlah diketahui jika di 12 barak tersebut hampir semuanya belum terpasang PJU sama sekali. “Hanya ada satu di Plosokerep,
“ beber Wahyu. Satu PJU itu pun hanya berupa tiang. Sementara suplai daya listriknya diambil dari barak terdekat. Sehingga memberatkan rekening listrik Barak Plosokerep. “Ini nanti akan kami pisah,” lanjutnya.

Selain PJU di sekitar barak, Wahyu berjanji menambah lampu di beberapa ruas jalan. Mulai Padukuhan Ngepring hingga Turgo. Di ruas jalan tersebut juga hanya ada tiang listrik. Tanpa jaringan PJU. Padahal jalur itu difungsikan sebagai jalur evakuasi. “Setiap tiang nanti akan dipasang satu PJU. Total akan ada 32 titik,” ucapnya.

Kasi Mitigasi Bencana, BPBD Sleman Joko Lelono tak menampik minimnya sarana penerangan di area barak pengungsian. Bahkan perlengkapan barak seperti alas tidur, peralatan mandi cuci kakus (MCK), gudang, serta genset. Juga belum tersedia. “Tapi kondisi barak milik BPBD semua siap dan layak. Karena selalu ada perawatan,” klaim Joko.

Salah satu barak milik BPBD berada di Dusun Brayut, Wukirsari, Cangkringan. Dari pantauan Radar Jogja, barak tersebut dilengkapi empat kamar mandi. Namun hanya dua yang masih berfungsi. Akses menuju barak itu juga minim lampu penerangan. Sehingga tampak gelap ketika malam. Di wilayah lereng Merapi juga terdapat beberapa barak milik desa setempat. Hanya barak milik BPBD ada penjaganya. Sementara barak pengungsian desa biasanya menggunakan balai desa.

Menurut Joko, selain di wilayah Turgo ada beberapa jalur evakuasi Merapi yang membutuhkan lampu penerangan. Misalnya di perbatasan Sleman – Klaten. Juga jalan dari Pasar Butuh hingga Srunen. Selain sempit juga sangat gelap. “Juga di Jalan Boyong itu masih butuh penerangan,” katanya.

Selain PJU, Joko tak menyangkal minimnya ketersediaan rambu petunjuk jalur evakuasi. Menurut dia, rambu itu lebih ditujukan bagi masyarakat dari luar daerah. Yang kebetulan berada di lereng Merapi saat terjadi bencana. “Kalau masyarakat lereng Merapi pasti hafal. Tapi untuk wisatawan yang susah. Makanya kami sebenarnya masih butuh banyak rambu evakuasi,” katanya. (har/yog)