GUNUNGKIDUL – Petani lahan kering di sejumlah wilayah Gunungkidul dihantui gagal panen. Lantaran tanaman padi yang masih berusia 70-80 hari diserang hama uret. Gejalanya, bagian batang menguning, kemudian perlahan mati.

”Ada lima hektare tanaman yang rusak,” jelas Yuniasih, ketua Kelompok Tani Wanita (KTW) Maju Lestari Pedukuhan Lemahbang, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Rabu (13/2).

Dia menduga, serangan hama uret dipicu penggunaan pupuk kandang yang belum terfermentasi. Itu diperparah dengan rendahnya curah hujan. Akibatnya, hama uret dengan cepat berkembang biak dan merusak batang padi.

Oleh sebab itu, dia meminta organisasi perangkat daerah terkait turun tangan memberikan pestisida. Agar serangan hama tak semakin parah.

”Jika penanganan terlambat, puluhan hektare tanaman padi terancam gagal panen,” ujarnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Raharjo Yuwono mengakui adanya laporan perihal serangan hama uret. Namun, dia memastikan persentase serangan hama masih kecil.

”Dari tanaman padi gogo seluas 48.628 hektare, tak lebih dari dua persen yang diserang,” klaimnya.

Meski secara data ada puluhan hektare lahan padi gogo yang rusak, Raharjo Yuwono memastikan, sebarannya di beberapa titik. Jadi, tidak begitu mengkhawatirkan. Toh, sebagian titik ada yang memasuki musim panen. Di sebagian wilayah Kecamatan Rongkop, contohnya.

”Di Desa Melikan, misalnya, hasil panen sekitar 6,5 ton per hektare,” ungkapnya.

Kendati begitu, dia berjanji tetap menindaklanjuti laporan serangan hama uret. Dengan menerjunkan petugas ke lapangan. Juga membagikan pestisida gratis kepada petani yang membutuhkan.

”Prosedurnya ada laporan serangan, dilanjut ada rekomendasi pengendalian dari pengamat hama kecamatan, kemudian permintaan ke dinas,” tambahnya. (gun/zam/tif)