KULONPROGO – Hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Dana tali asih bagi warga penggarap lahan eks Pakualamanaat Grond (PAG) terdampak proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) akhirnya cair.

Kepastian itu menyusul adanya serah terima berita acara pencairan dana tali asih di kantor Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY Cabang Wates kemarin (13/2). “Hari ini (kemarin) kami mulai kirim (dana tali asih, Red) ke rekening masing-masing warga penggarap PAG,” ujar Kepala BPD DIY Cabang Wates Didit Respati Setiadi.

Total dana tali asih yang dicairkan Rp 25 miliar. Sesuai janji pihak Pakualaman. Namun jumlah bagian untuk setiap warga berbeda-beda.

Proses pencairan dana tersebut dibarengi pembagian buku rekening. Ini sekaligus sebagai tanda bahwa tahap pencairan dana tali asih eks lahan PAG rampung. “Targetnya hari ini (kemarin) bisa semua (cair, Red). Ada 800 – an warga penerima,” jelasnya.

Jika pencairan dana tali asih tak selesai sehari kemarin, lanjut Didit, masih ada tenggat waktu hingga sepekan ke depan. Kendati demikian, Didit optimistis, pencairan semua dana tali asih tuntas selambat-lambatnya, Jumat (15/2).

Pencairan kemarin dimulai bagi warga Desa Sindutan.
Warga penerima wajib mengambil sendiri buku tabungan tersebut. Atau bisa diwakilkan kepada orang lain asal membawa surat kuasa.

Didit memastikan pencairan dana tersebut tepat sasaran. Mengingat dalam proses verifikasi data turut melibatkan pemerintah desa terkait.

Penghageng Kawedanan Keprajan Pura Pakualaman Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Suryo Adinegoro turut hadir sebagai saksi penyerahan dana tali asih. Bayudono, sapaan akrabnya, berharap dana tali asih bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga penerima. “Itu kan uang banyak. Bisa untuk modal atau digunakan yang bermanfaat,” tuturnya.

Ihwal pencairan dana yang terbilang cukup lama, Bayudono berdalih karena uangnya baru tersedia saat ini. Alasan lain, uang Rp25 miliar sangat besar. Sehingga butuh waktu untuk pencairannya.

Begitu tersedia, uang langsung diserahkan kepada warga yang berhak. Bahkan, rencana Pakualaman mencari lahan pengganti belum terlaksana karena masih mempertimbangkan kondisi anggaran.

“Harga tanah di DIJ, khususnya Kulonprogo naik drastis. Maunya leluhur sih begitu. Dari tanah kembalinya ya tanah, tapi kan harus mikir. Saat terima ganti rugi segitu untuk kembali segitu sekarang sulit,” paparnya.

Sebagaimana diberitakan, wacana adanya dana tali asih bagi warga penggarap eks PAG muncul sejak pertengahan 2018 lalu. Anom Junprahadi, notaris yang ditunjuk menangani pencairan dana tali asih, mengatakan, Kadipaten Pura Pakualaman sepakat memberikan uang tali asih Rp 25 miliar dalam pertemuan di kantor wakil gubernur DIJ pada 30 Agustus 2018 lalu.

Kesepakatan pencairan dana ditujukan bagi warga penggarap eks PAG terdampak NYIA di empat desa. Yakni Jangkaran (121 orang), Sindutan (69), Palihan (182), dan Glagah (476). Total 848 orang. “Dana tersebut dikirimkan ke rekening warga penerima sesuai daftar nominatif tetap subjek dan objek penggarap,” katanya.

Dana tali asih bagi warga terdaftar yang belum bersedia mencairkan dan tidak menyerahkan nomor rekening bank akan disimpan dan dititipkan ke rekening pemerintah desa setempat. Sesuai lokasi tanah masing-masing.

Ketua Paguyuban Warga Penggarap Lahan PAG Desa Glagah Sudarman mengaku bisa bernapas lega menyusul kepastian pencairan dana tali asih. Dia menyambutnya dengan gembira. “Hampir seluruh penggarap lahan eks PAG sudah menantikan lama dana ini. Untuk digunakan sebagai modal usaha dan membangun rumah baru,” ungkapnya.

Berdasarkan data verifikasi, jelas Sudarman, rata-rata setiap warga dulunya menggarap lahan PAG seluas 2.000 meter. Adapun per meter lahan eks PAG dihargai Rp15.000 sebagai tali asih. Jika dikalkulasikan, setiap warga rata-rata bisa menerima dana antara Rp 25 juta – Rp30 juta.

“Kami terima saja. Tidak menuntut yang berlebihan. Dengan nominal segitu sepertinya sudah cukup untuk usaha kecil-kecilan,” ujar Sudirman. (tom/yog/riz)