SLEMAN – Keluarga terduga pelaku pelemparan batu yang mengakibatkan tewasnya suporter sepak bola bernama M Asadulloh Allhoiri di Kalasan terlihat emosi. Ami Suratmi, ibu dari salah seorang pelaku, Ronius Chaniago, mengatakan anaknya dipaksa mengakui perbuatannya.

Ami mengatakan, berdasarkan keterangan dari anaknya justru ketika kejadian, anaknya tidak melintas di area tersebut. Kata Ami, anaknya mengambil ‘’jalan tikus’’ ke arah Manisrenggo, Klaten.

“Dewa dan Roni (terduga pelaku pelemparan batu) tidak pernah melewati area RSIY,” ujar Ami di sela reka ulang kejadian di Jalan Jogja-Solo, Kamis (14/2).

Kasat Reskrim Polres Sleman, AKP Anggaito Hadi Prabowo mengatakan, reka ulang berdasarkan keterangan saksi dan olah tempat kejadian perkara (TKP). “Rekonstruksi untuk memperjelas kejadian guna melengkapi berkas yang akan dilimpahlan ke kejaksaan,” ujar Anggaito.

Dalam reka ulang ada 12 adegan yang diperankan. Mulai awal mula berkumpul hingga eksekusi. Adegan dilakukan di enam TKP berbeda. TKP pertama di sekitar Candisari dan berakhir di RSIY.

Pada reka ulang tersebut, kedua pelaku tidak dihadirkan. Diperankan orang lain. Sebab kedua pelaku tidak mengakui perbuatannya di dua TKP, yaitu di POM Bensin Kalasan dan di RSIY PDHI. Di empat TKP lain mereka mengakui.
“Keterangan pelaku berubah-ubah, awalnya mereka mengakui perbuatannya. Lalu mencabut pengakuannya,” jelasnya.

Pasca reka ulang, pihaknya akan segera melimpahkan berkas ke kejaksaan. “Ini tahap pertama dulu, kalau berkas belum lengkap ya dikembalikan dan diperbaiki,” kata Anggaito.

Pelemparan batu terjadi usai pertandingan PSS Sleman melawan Persis Solo (19/1). Tiga hari kemudian, Tim Progo Sakti Polres Sleman dan Ditreskrimum Polda DIJ berhasil menciduk para terduga pelaku.

Dari bukti dan keterangan saksi, dua orang pelaku yaitu Ronius Chaniago, 18, dan Dewan Ndaru, 18, keduanya warga Banguntapan, Bantul ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya ditahan di Mapolres Sleman. (har/iwa/riz)