Coklat termasuk buah tangan yang relatif murah dan mudah didapatkan. Juga kerap dikaitkan sebagai lambang kasih sayang. Itulah yang membuat KWT Pawon Gendis Dusun Salakmalang, Banjarharjo, Kalibawang, Kulonprogo panen rezeki pada momen Valentine’s Day lalu.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

KETEKUNAN Selalu menemukan jawabannya. Coklat pegagan yang menjadi produk khas Kelompok Wanita Tani (KWT) Pawon Gendis pun laris manis. Saat  momen Valentine’s Day. Pada 14 Februari lalu. Omzetnya naik hingga 30 persen.

Memang tak semua orang merayakan hari kasih sayang. Namun bagi kalangan tertentu, terutama para remaja, hari itu adalah momen spesial. Untuk berbagi kebahagiaan. Di situlah coklat menjadi berkah bagi anggota KWT Pawon Gendis.

“Mengungkapkan rasa sayang dengan coklat itu lazim. Momen itulah yang kami bidik. Lewat brand ‘Won Dis’ alias Pawon Gendis, produk asli Kulonprogo,” ucap Ketua KWT Pawon Gendis Dwi Martuti kemarin (15/2).

Coklat Won Dis menggunakan bahan baku kakao hasil budidaya warga Salakmalang. Semua proses produksi juga dilakukan di Salak Malang. Diolah oleh ibu-ibu setempat. Seiring berjalannya waktu, jumlah produksi terus ditambah. Pun demikian varian rasanya. Lebih lengkap. Ada rasa kopi Menoreh, gula semut, kulit jeruk, kacang, dan banyak lagi. Harganya pun variatif. Dan cukup terjangkau untuk kantong warga Jogjakarta dan sekitarnya. Hanya berkisar Rp 5 ribu – Rp 50 ribu. Tergantung jenis dan ukurannya. Ada bentuk batangan. Ada pula dikemas semacam permen.

Dwi menyadari, untuk memenuhi permintaan pasar harus rajin berinovasi. Seperti dilakukan Pawon Gendis saat momen Valentine’s Day. Selain menambah varian rasa, juga bentuknya. Didesain semenarik mungkin. Seperti bentuk hati.

Rumah produksi Won Dis memang berada di pedesaan. Tapi jangan tanya omzetnya. Terlebih sejak Won Dis booming. Sehingga banyak yang menawarkan diri menjadi reseller. Tiap hari mereka bisa menghabiskan 70 kilogram bahan baku. Meroket sejak awal Februari lalu. Per hari sampai 150 kilogram. Demi memenuhi pesanan pelanggan. Omzetnya tembus Rp 15 juta. Lebih dua kali lipat dibanding hari biasa sekitar Rp 7 juta. “Pemasaran online cukup membantu kami. Permintaan pelanggan naik drastis bulan ini,” ujar Dwi.

Selain dijual online, Pawon Gendis juga menjajakan langsung produk mereka di wilayah Kalibawang. Di rumah produksi. Yang juga bisa dilihat oleh pengunjung. Saat proses produksi.

Kenapa pakai campuran daun pegagan? Menurut Dwi, daun pegagan kaya manfaat bagi kesehatan.

Salah satunya sebagai multivitamin otak, penambah daya ingat, penyembuhan asam urat, dan bisa menyebuhkan berbagai penyakit lainnya. “Makanya coklat ini sehat. Apalagi berbahan alami. Selain pegagan, kadang kami padukan dengan teh hijau,” ucapnya.

Media sosial menjadi sarana penting dalam pemasaran. Itulah yang membuat Coklat Win Dis Kulonprogo dikenal luas. Selain dipasarkan di wilayah Jogjakarta, Win Dis dikirim ke Jakarta, Bali, Sulawesi, dan berbagai kota besar lainnya.

Azatur Ismah adalah salah seorang pelanggan Win Dis yang tahu produk itu lewat media sosial. Warga Kota Jogja itu penasaran ingin mencoba produk khas Kulonprogo itu. Dan itu yang membuatnya ketagihan. “Rasa coklatnya kuat banget. Beda dengan coklat pada umumnya,” ungkapnya. “Puas karena coklat ini dibuat secara tradisional. Harganya juga ramah di kantong,” sambung Ismah. (yog/tif)