SLEMAN-Keberadaan pohon pule yang terletak di sisi selatan, tak jauh dari Simpang Empat Seturan Raya, Ngropoh, Caturtunggal, Depok, Sleman terus dikeluhkan pengguna jalan. Sebab, pohon tua berdiameter lebih satu meter itu tumbuh di trotoar. Bahkan melebar ke badan jalan. Menyebabkan penyempitan ruas jalan. Sementara lalu lintas kendaraan di titik tersebut masih sering crowded. Meskipun saat ini arus kendaraan telah dibuat satu arah ke utara.

Keberadaan pohon itu juga tak jarang menimbulkan kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Terutama jika ada pengendara motor atau mobil dari selatan yang mendahului kendaraan di depannya. “Biasanya kalau mendahului dari sisi kiri. Langsung ketemu pohon itu,” ungkap Arif Budiman, 23, mahasiswa asal Lamongan yang indekos di Seturan, Jumat (15/2).

Selama hampir enam bulan indekos di kawasan itu, Arif mengaku sudah empat kali menyaksikan kecelakaan di titik tersebut. Semua akibat pengendara mobil atau motor menabrak pohon besar itu.

Kecelakaan lain akibat pohon besar itu lantaran keberadaannya menutupi gang kampung di sisi utaranya. Siapa pun yang keluar dari gang itu menuju Jalan Seturan sering kesulitan untuk menyeberang. Terutama saat lalu lintas macet. “Pengendara kendaraan dari arah selatan biasanya tidak melihat saat ada motor keluar dari gang. Karena tertutup oleh pohon itu,” katanya.

Di bagian lain, menurut Arif, pohon besar itu justru sering dimanfaatkan untuk ritual tertentu. Arif mengaku sering melihat aktivitas tersebut. Biasanya ketika malam. “Ada yang bakar dupa dan menancapkannya di sekitar pohon,” bebernya.

Terpisah, Kepala Bidang Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Junaidi mengakui bahwa keberadaan pohon tersebut sering dikeluhkan masyarakat. Namun sampai saat ini belum ada rencana dari lembaganya untuk menebang pohon itu. Alasannya emaneman (sayang). Karena usia pohon itu sangat tua. Dipindah ke tempat lain pun tidak memungkinkan. Mengingat ukurannya yang cukup besar.

“Itu (pohon pule, Red) memang banyak dikeluhkan (masyarakat), tapi juga termasuk jenis pohon yang dilestarikan. Apalagi usianya sudah cukup tua,” dalihnya.

Junaidi pun tak menampik keberadaan pohon itu banyak memakan hak pejalan kaki dan pengguna jalan lainnya. Namun dia menyatakan belum menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. (har/yog/tif)