SLEMAN – Plt Kepala Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Etik Setyaningrum menyatakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi di DIJ hingga akhir Februari. Fenomena alam ini terjadi akibat munculnya daerah konvergensi di sekitar Pulau Jawa sebagai dampak pusaran angin “Eddy”. Yaitu sirkulasi angin tertutup di sebelah barat Pulau Sumatera. “Dampak dari konvergensi atau pertemuan angin ini menyebabkan pembentukan awan-awan hujan menjadi besar di wilayah DIJ,” jelasnya Minggu (17/2).

Berdasarkan dinamika atmosfer terkini, lanjut Etik, pola angin baratan sampai pertengahan April relatif masih kuat. Ini menandakan masih masuk musim hujan. Biasanya angin timuran masuk wilayah Indonesia secara berangsur-angsur mulai akhir April hingga Mei. Itu menandakan masuknya musim kemarau.

Melihat kondisi alam tersebut, secara umum akhir April mendatang akan menjadi penghujung musim hujan di wilayah DIJ. Kemudian awal Mei sudah masuk musim kemarau.

Meski puncak hujan telah lewat, Etik mengimbau masyarakat tetap waspada menghadapi cuaca ekstrem. Terutama bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan petir. Potensi bencana hidrometeorologi diprediksi masih berpeluang terjadi di wilayah DIJ.

Adapun hujan deras yang melanda wilayah Sleman dan sekitarnya pada Sabtu (16/02) mengakibatkan belasan rumah terendam banjir. Hujan deras sejak sore itu meninggalkan genangan air hingga lebih setengah meter di dua wilayah kecamatan. Yakni Moyudan dan Seyegan. Genangan air mulai surut sejak pukul 22.19.Meski nihil korban jiwa, puluhan orang dilaporkan sempat mengungsi.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan merincikan, empat rumah terendam banjir setinggi 10 – 60 cm di Dusun Kruwet, Sumberagung, Moyudan. Pun demikian tujuh rumah di Dusun Kruwet 1. “Tak kurang 24 orang mengungsi sementara ke tempat lebih aman,” ujarnya kemarin.

Menurut Makwan, sebagian besar warga yang mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.  Hanya dua warga Kruwet 1, Sotjodimedjo dan istrinya yang masih mengungsi. Keduanya mengungsi rumah anak mereka lantaran faktor usia dan kondisi kesehatan.

Banjir juga terjadi di Dusun Kandangan, Margodadi, Seyegan. Sebanyak 46 kolam ikan meluap. Sedangkan dua rumah tergenang air hingga setinggi 50 cm. Di Dusun Kurahan 3, Margodadi sebidang kolam ikan juga meluap.

Hujan disertai angin kencang saat itu juga mengakibatkan puluhan pohon tumbang. Di antaranya, di Jalan Solo KM 8, Maguwoharjo, Depok. Batang pohon tumbang dan melintang jalan juga terjadi di Dusun Kandangan. Sementara di Gayamharjo, Prambanan sebuah kandang ternak roboh. “Evakuasi pohon tumbang sudah dilakukan tim reaksi cepat BPBD,” kata Makwan.

Sementara itu, hujan es juga kembali terjadi di wilayah utara Kabupaten Sleman. Tepatnya di Tritis, Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Minggu (17/02) sore.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Jogjakarta Djoko Budiyono mengatakan,  fenomena hujan es disebabkan aktivitas awan Cumulonimbus (CB). Berupa awan rendah yang pertumbuhannya vertikal. Menjulang ke atas. Awan ini berbentuk gumpalan seperti bunga kol dan menyerupai huruf T. “Awan ini puncaknya sangat tinggi hingga suhu bagian atas awan ini minus. Akibatnya bentuk partikel di atasnya membentuk kristal-kristal es,” jelasnya.

Kristal es di bagian atas itulah yang kemudian turun ke bumi dalam bentuk es. Penyebab jatuhnya es dari awan ini akibat turbulensi atau golakan angin yang kuat. Bisa juga terpental ke bawah pada saat munculnya petir.

Awan CB umumnya terbentuk pada periode antara siang dan sore hari. “Awan-awan CB ini terdeteksi di radar cuaca kami siang tadi (kemarin) sekitar pukul 14.30,” ungkapnya.

Djoko menyebut potensi awan CB ini bisa muncul di wilayah DIJ hingga beberapa hari ke depan. Dampak lain awan CB adalah hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Termasuk puting beliung.

Djoko menjelaskan durasi hidup awan CB ini bersifat lokal dan pendek. Hanya sekitar 1-2 jam. Namun, dampak yang ditimbulkan awan ini bisa cukup besar. “Kami mengimbau masyarakat untuk mewaspadai bila di daerahnya muncul awan jenis CB ini,” tuturnya. (har/yog/tif)