SLEMAN – Dusun Plataran, Selomartani, Kalasan, 70 tahun yang lalu menjadi saksi bisu pertempuran mempertahankan kemerdekaan RI. Di dusun itu dibangun monumen yang menjadi pengingat perjuangan para taruna Militer Academy (MA) atau saat ini dikenal sebagai Akmil, yang gugur melawan tentara Belanda.

Pertempuran terjadi 24 Februari 1949. Banyak pejuang gugur. Di antaranya dua perwira remaka, lima taruna, satu anggota Tentara Pelajar dan warga masyarakat. “Dalam peringatan 70 tahun Pertempuran Plataran, kami ingin membangkitkan semangat nasionalisme,” kata Ketua Komunitas Historia 24249, Nuriel Huda (17/2).

Peringatan bertajuk Mereka Pernah di Sini berlangsung seminggu. Puncaknya pada 24 Februari 2019, tepat 70 tahun Pertempuran Plataran.

Peringatan juga ditampilkan sosiodrama. Menggambarkan kisah perjuangan para taruna. Setidaknya, kata Nuriel, hampir semua warga Kledokan terlibat.
Adanya momentum ini juga turut memberinya asa. Dia ingin agar nantinya Desa Selomartani dan Dusun Plataran menjadi desa wisata sejarah.

Sebab nilai histori di daerah tersebut sangat kuat. Dokumen-dokumen sejarah juga masih banyak tersimpan. “Harapan kami, ada peraturan bupati yang bisa mengukuhkan Plataran sebagai desa wisata sejarah,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih mempersilakan jika ingin membuat desa wisata. “Silakan, tapi sebelumnya dibuat dulu lembaganya. Semacam pokdarwis,” kata Sudarningsih.

Selain Plataran, sudah ada desa wisata sejarah lain. Yaitu Desa Wisata Kelor. “Namun kalau di Plataran ini lebih lengkap dokumen sejarahnya,” katanya.
Hingga kini di Sleman sudah ada 47 desa wisata. “Jika masyarakat ingin mengajukan jadi desa wisata tinggal minta, nanti kami bantu,” kata Sudarningsih. (har/iwa/mg3)