GUNUNGKIDUL – Perilaku sebagian masyarakat perkotaan masih buruk. Mereka masih terbiasa membuang sampah di sungai. Salah satu akibatnya kualitas air sungai di Gunungkidul terus menurun.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul Aris Suryanto mengatakan, kualitas air sungai, terutama yang melintas di kawasan perkotaan terus menurun. Itu disebabkan banyaknya limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai.

”Seperti plastik bungkus detergen dan minuman kemasan. Bahkan, kotoran hewan pun banyak,” keluh Aris di kantornya pekan lalu.

Meski demikian, Aris memastikan kualitas air sungai masih masih memenuhi standar mutu yang ditetapkan. DLH secara rutin melakukan pemeriksaan kualitas air sungai dengan uji laboratorium. Indeks kualitas air sungai di Gunungkidul masuk dalam kategori baik.

”Air sungai di Gunungkidul masih dalam kategori layak,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, kata Aris, DLH saat ini menggencarkan Program Kali Bersih (Prokasih). Program ini, antara lain, berupa mengampanyekan perilaku hidup bersih kepada masyarakat perkotaan. Juga mengajak kebersihan sungai. Termasuk mengajak agar pemilik hewan ternak tak memandikan sapi atau kambing di sungai.

”Muara program adalah kesadaran agar tidak membuang sampah maupun limbah lain ke sungai,” katanya.

Haryadi, seorang warga Wonosari tak menampik bahwa tidak sedikit yang masih membuang sampah di sungai. Di antaranya Sungai Besole. Padahal, sungai ini pernah meluap.

”Yang membuang sampah sembarangan biasanya individu yang malas, sehingga sungai dianggap sebagai solusi,” tutur penjual makanan di wilayah Wonosari ini. (gun/zam/mg4)