Orang tua ingin memiliki anak yang displin, cerdas, dan mencintai lingkungan. Harapan itu tidak berlebihan. Murid-murid TK ABA Kendalgrowong, Muntilan, juga diajari hal yang sama. Yakni displin dan cerdas, serta memiliki kepedulian dengan lingkungan sekitar. Lalu, seperti apa guru mendidiknya?

FRIETQI SURYAWAN, Mungkid

Pagi cerah. Matahari di ufuk timur memperlihatkan sinarnya. Demikian halnya anak-anak dari TK ABA Kendalgrowong. Keceriaan terlihat pada wajah-wajah Fuza, Bening, Adit, dan teman-temannya. Mereka bersama-sama akan melakukan outbond di Kecamatan Dukun.

Sudah sepagi itu mereka sudah berangkat. Sekitar 40 anak didampingi empat guru, sudah tiba di lokasi outbond yang ada di Dusun Grawah, Ngadipuro, Dukun, Kabupaten Magelang. Tak ketinggalan, beberapa orang tua ikut menyertainya.

Pukul 08.00 acara outbond yang dikoordinasi Omah Limasan Outbond dan Kuliner dimulai. Anak-anak menggambar caping dengan cat warna-warni. Semua menuangkan imajinasi dan kreativitas masing-masing, dipandu Guru Seni Lukis Bang Ucup. Selama 30 menit, mereka mewarnai caping yang siap dipakainya itu untuk kegiatan berikutnya. “Aku senang. Gembira banget hari ini,” ungkap Fuza, salah satu siswa.

Selanjutnya anak-anak digiring ke sawah, tak jauh dari tempat anak-anak menggambar di halaman Omah Limasan Grawah. Jaraknya sekitar 50 meter. Mereka beramai-ramai turun ke sawah. Di tempat itu, anak-anak diajari cara tandur atau menanam padi.

Ada keheranan terlihat dari raut muka mereka. Namun, mereka gembira karena bisa merasakan lendut, air, dan juga mengetahui secara langsung cara menanam. Momen cara menanam padi ini dipandu Kak Teguh, anggota karangtaruna kampung setempat. Memang manajemen Omah Limasan Outbond dan Kuliner menggandeng beberapa pemuda untuk menjadi pemandunya.

Usai menanam padi, acara dilanjut dengan tubing ban di sungai kecil yang juga tak jauh dari Omah Limasan Outbond dan Kuliner. Ini dipandu Kak Ata dan Kak Purwanto. Anak-anak tampak gembira dan merasakan sensasi bermain tubing ban.

Acara berlangsung hampir 60 menit. Kemudian anak-anak diajak menangkap ikan di kolam. Semua bergembira. Rata-rata, mereka mengaku baru pertama kali menangkap ikan, langsung di kolam. Proses outbond berakhir pukul 12.30, dilanjutkan makan siang.
Setelah mandi dan berganti pakaian, anak-anak dan para guru pendamping serta orang tua beramai-ramai menikmati makan siang, soto khas Omah Limasan Outbond dan Kuliner.

Di sela acara, Kepala Sekolah TK ABA Kendalgrowong Hidayati S.Pd mengaku baru kali pertama mengagendakan outbond bagi murid-muridnya. Sebenarnya sudah sejak dulu ingin menggelar bagi siswa TKA ABA dengan tujuan mengenalkan ke alam.

“Gayung bersambut, ternyata ada di sini (Ngadipuro, Red) dan biayanya cukup terjangkau. Per anak dikenai Rp 50 ribu, sudah komplet,” ungkap Hidayati.
Ia mengaku puas dan ingin menggelar outbond setiap tahun. Apalagi ada harapan dari pihak sekolah yang ingin anak-anak TK ABA Kendalgrowong Muntilan mengerti dan merasakan bermain di alam terbuka.
Selain itu anak-anak mengetahui bagaimana petani bekerja menanam padi, mengetahui bagaimana cara menangkap ikan, dan outbond itu mengajak anak-anak memiliki kebersamaan. “Tentu saja dibungkus dengan aneka permainan,” paparnya.

Ditambahkan, layanan outbond ti tempat itu sangat cocok bagi anak-anak. Apalagi hasil karya anak berupa caping yang dilukis dan ikan yang boleh dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Hidayati juga senang. Selain menu makan siang yang enak, aneka kudapan khas lereng Merapi, seperti ubi jalar rebus, talas, dan jagung rebus hangat sangat pas dinikmati dengan suasana pedesaan yang ada.

Pengelola Omah Limasan Outbond dan Kuliner Susilo Pranoto mengaku, dengan menyiapkan gelaran outbound bagi murid TK dan SD ini, ada keinginannya untuk mengajarkan anak-anak lebih mencintai alam. Bagaimamana pun, anak-anak yang akan mewarisi alam sekitar yang ada.
Ia berharap dengan melibatkan pemuda karangtaruna setempat, juga menumbuhkan dan menggugah generasi muda desa (karangtaruna) lebih produktif dan inovatif mengembangkan potensi desa.

Selain outbond tersebut, lanjut Susilo, tempat itu juga bisa dipesan sebagai tempat pertemuan, rapat, atau sekedar menikmati kuliner yang ada. Memang, sampai saat ini, sistemnya harus pesan dulu dan belum melayani kunjungan dadakan. Menunya special rica-rica enthok dan iwak Kali Elo. Namun, ia tidak menutup kemungkinan pesan menu yang, sesuai keinginan tamu.

Khusus outbond, di tempat itu, juga tersedia aneka permainan lain. Seperti egrang batok, egrang bambu, juga berwisata ke situs Candi Sengi dengan perjalanan naik jeep. “Dengan paket Rp 75 ribu per anak, sudah bisa melakukan wisata edukasi ke candi-candi yang ada di sekitar Kecamatan Dukun. Yakni, Candi Asu, Lumbung, dan Pendek, dengan naik jip ke lokasi itu,” katanya. (laz/mg2)