Tiap hari waktunya dicurahkan bagi anak-anak penderita kanker. Untuk berbagi kegembiraan. Retno Ratih tak pernah mengenal lelah untuk selalu menjaga dan mendampingi anak-anak itu di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Jogjakarta.

IWAN NURWANTO, Sleman

RUMAH di Jalan Bangau No. 8, Plemburan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, tampak begitu tertutup. Gerbang rumah tinggi menjulang ditutup terpal. Di balik kesan tertutup itu rumah tersebut ternyata menyimpan misi mulia. Rumah itu memiliki arti penting bagi anak-anak penyintas kanker. Menjadi tempat singgah bagi mereka yang dirujuk ke RSUP Dr Sardjito. Tak hanya belasan. Tapi puluhan anak singgah di rumah itu. Hampir tiap hari. Untuk menjalani terapi. Itulah markas YKAKI Jogjakarta. Tempat di mana Retno Ratih menghabiskan waktunya. Sejak rumah itu dibangun pada 2013.

Selama enam tahun ini Retno merawat rumah itu. Dengan telaten. Pun merawat dengan telaten pula anak-anak yang singgah.

Itu sudah menjadi jalan hidup pilihan perempuan yang usianya telah menginjak kepala lima tersebut. Untuk mengabdikan diri sebagai perawat anak-anak kanker.

Hari Kanker Anak Sedunia 15 Februari memang memiliki arti penting bagi Retno. Namun bukan saat itu saja dia berbagi kasih sayang dengan para penyintas kanker anak-anak. Tapi setiap hari. Tinggal di rumah itu setiap hari menjadikan Retno bisa turut merasakan apa yang dirasakan anak-anak penyintas kanker. Tawa dan tangis mereka pun menjadi santapan Retno sehari-hari.

Anak-anak seharusnya memiliki banyak waktu untuk bermain. Tapi tidak demikian bagi anak-anak YKAKI. Mereka harus menjalani terapi rutin, selain pengobatan medis. Bermain di luar ruangan pun dibatasi. Makan juga tak boleh sembarangan. Itu karena sistem kekebalan tubuh anak-anak itu rendah dan rentan.

Kesabaran dan empati menjadi kunci utamanya. Terlebih untuk menjaga puluhan anak berbagai usia dan latar belakang budaya yang berbeda.

“Asal mereka beragam. Ada anak dari Jakarta, Kalimantan, Sumatera, bahkan Papua,” ungkap Retno saat berbincang dengan Radar Jogja (15/2).

Rumah YKAKI Jogjakarta mampu menampung sedikitnya 25 anak. Lebih banyak berada di dalam rumah tak lantas membuat Retno merasa terkungkung. Sebaliknya, dia justru mendapat kebahagiaan tesendiri. Melihat senyuman anak-anak penyintas kanker menjadikan jiwanya merasa tenteram.

Menjaga dan merawat anak-anak tersebut juga menjadi hikmah bagi Retno. Dia bisa melihat arti hidup sebenarnya. Tentang perjuangan. Bagaimana puluhan anak itu harus melawan leukima dan tumor yang dapat mengancam jiwa mereka.

Di rumah itulah Retno terus menggelorakan semangat. Memberikan dukungan kepada anak-anak asuhnya. Supaya mereka tak bosan.

YKAKI juga memiliki agenda kegiatan belajar-mengajar layaknya di sekolah umum. Agar anak-anak tak tertinggal pelajaran sekolah. Dan tetap bisa melanjutkan pendidikan ketika kembali ke daerah asal mereka. “Kurikulumnya kami samakan dengan sekolah,” kata Retno.

Lelah sudah pasti dia rasakan. Namun tak sekalipun Retno berharap mendapat apresiasi. Atas jerih payahnya itu. Hanya satu harapan terbesarnya. Yakni kesembuhan bagi anak-anak YKAKI. Sehingga mereka bisa menjalani kehidupan secara normal. Dan bebas bermain.

Satu hal yang selalu membuat Retno bahagia adalah ketika dia berjumpa lagi dengan anak-anak yang pernah menghuni rumah YKAKI. Yang telah dinyatakan sembuh. Lalu datang ke YKAKI untuk menemuinya. Haru sudah pasti menyeruak di benak Retno. Mengenang kembali perjuangan anak-anak itu demi mendapat kesembuhan. (yog/tif)