GUNUNGKIDUL – Para petani jagung harus bersiap-siap mendapatkan keuntungan pas-pasan. Lantaran harga jagung di pasaran anjlok. Padahal, dalam dua bulan ke depan berbagai daerah di Indonesia memasuki panen raya.

”Harga jagung kering di tingkat petani sekarang hanya laku Rp 3.500 per kilogram (kg),” keluh Ponijem, seorang petani di sela panen raya jagung di Pedukuhan Tanjung, Desa Getas, Kecamatan Playen, Senin (18/2).

Saat panen perdana beberapa waktu lalu, Ponijem menyebut, harga jagung masih di kisaran Rp 5.000 per kg. Idealnya, penurunan harga saat ini berada di angka Rp 4.000 per kg.

Menurutnya, selisih Rp 500 bagi para petani cukup besar. Lantaran proses pengeringan jagung membutuhkan waktu yang cukup panjang.

”Harus dijemur dengan cara tradisional selama dua sampai tiga hari. Kemudian memipilnya,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Bambang Wisnu Broto menengarai penurunan harga akibat banyaknya stok jagung.

”Mungkin karena produksinya tinggi,” katanya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto memastikan pemerintah berupaya menyeimbangkan harga jagung. Apalagi, bulan Maret merupakan puncak panen raya jagung. Kendati begitu, dia meminta para petani tidak menjual jagung saat musim panen.

”Petani bisa menyiasatinya dengan menjadikannya pangan olahan,” sarannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIJ Sasongko mengungkapkan, Gunungkidul merupakan wilayah penghasil jagung terbesar di DIJ. Sebanyak 80-85 persen kebutuhan jagung di DIJ berasal dari Gunungkidul.

Ketika disinggung anjloknya harga, Sasongko menyebut hal itu berdampak positif bagi pasar.

”Kalau harga jual jagung tinggi, petani senang. Tapi peternak susah, harga telur dan daging bisa saja naik karena harga pakan ternak naik,” katanya. (gun/zam/mg4)