EKSPLOITASI alam secara besar-besaran dalam bentuk apapun harus dihindari. Sebab, ini akan berdampak buruk terhadap alam serta hajat hidup orang banyak. Seperti halnya penambangan pasir ilegal yang terus menerus dilakukan di lereng Merapi. Kini mulai berbuntut pada masalah lingkungan yang tak bisa dianggap enteng. Kerusakan yang terjadi akibat penambangan ilegal ini, tak hanya merusak alam saja, akan tetapi juga kehidupan masyarakat di sekitarnya. Salah satu imbas terparah ialah warga sekitar lereng Merapi mengalami krisis air bersih.

Fakta telah berbicara, meski dekat dengan sumber mata air. Namun, banyak warga lereng Merapi yang membeli air bersih. Ini dilakukan karena sumber mata air mengalami kekeringan. Salah satunya penyebabnya ialah karena penambangan pasir menggunakan alat berat yang membuat pohon tumbang, tanah longsor, dan ekosistem mengalami kerusakan. Sumber air pun menjadi menyusut. Sungai yang sebelumnya mengalir deras jadi mengering. Akibatnya, tidak dapat lagi dialirkan ke saluran irigasi pertanian dan rumah-rumah warga untuk dinikmati.

Apalagi, penambangan pasir liar dari hari ke hari bukan malah berhenti, akan tetapi semakin menjadi-jadi. Padahal, penambangan pasir Merapi yang tak berijin terjadi sejak 2014 silam. Tentu sekarang ini jejak kerusakan alam semakin parah. Selain jalan rusak, kekeringan ataupun hilangnya sumber mata air menjadi dampak yang paling dirasakan. Pasir yang terus menerus dikeruk akan membuat alam berubah dan sumber mata air pun berkurang. Demikian juga lahan pertanian di sekitar lereng Merapi menjadi tandus, akibatnya panen banyak yang gagal.

Kompleksitas problem akibat penambangan pasir ilegal seharusnya direspon sigap oleh pemerintah serta aparat keamanan. Pemerintah mulai dari tingkat desa sampai daerah bahu membahu menggencarkan sosialisasi tentang dampak buruk ekspoitasi pasir Merapi. Begitupun aparat kepolisiaan harus menindak siapa saja yang nekat melakukan penambangan liar pasir Merapi. UU No.4/2009 mengenai Pertambangan Mineral dan Batubara harus benar-benar dijalankan.

Tentunya bukan sekadar regulasinya saja, tetapi juga ada upaya pengawasan di lapangan. Masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar lereng Merapi perlu dilibatkan sebagai kontrol lingkungan. Para penambang pasir ilegal sudah saatnya disadarkan, bahwa tindakannya dapat merugikan lingkungan alam dan makhluk hidup baik saat ini maupun generasi mendatang. Kita boleh menambang pasir Merapi dengan catatan dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab.

Penambangan pasir bisa dilakukan dengan strategi win-win solution, melalui manajemen panambangan. Ini merupakan suatu usaha eksplorasi yang terencana, teratur, dan terorganisir baik. Artinya, dalam menambang perlu memperhatikan beberapa aspek seperti penentuan jumlah dan kualitas cadangan pasir; tempat yang layak tambang; waktu dan prioritas penambangan; serta cara penambangan. Semuanya itu tentu dengan tetap mengedepankan kelestarian alam. Manajemen penambangan ini harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.

Dalam mengimplementasikan sistem manajemen penambangan pasir, perlu berparadigma pada filsafat pembangunan ekosentris. Di mana tak hanya melihat dari sisi nilai manusianya saja, tetapi juga tetap memperhatikan nasib makhluk hidup dan ekosistem lain secara adil. Dari sini akan terwujud penambangan yang ramah lingkungan.

Namun yang jelas dari semua upaya tersebut, hal yang paling penting ialah kesadaran kolektif masyarakat akan kelestarian lingkungan. Mengingat menjaga kelestasian lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama. Maka, sangat tidak etis jika manusia lebih mengedepankan keegoisan, mengeksploitasi alam secara membabibuta. Kita boleh memanfaatkan alam ini secara bijak yaitu dengan memperhatikan nasib lingkungan, makhluk hidup, serta warga masyarakat yang hidup di lingkungan sekitar. (ila)

* Peneliti pada Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta