Menggalang dana untuk disumbangkan ke panti asuhan. Itulah salah satu aksi Simolodro, wadah suporter PPSM Magelang, dalam perayaan ulang tahun ke-17. Para senior pun berbagi kiat. Agar Simolodro punya legalitas dan lebih membumi.

FRIETQI SURYAWAN, Mungkid

SILATURASA. Itulah tajuk acara silaturahmi dan penggalangan dana oleh suporter PPSM Sakti Magelang di Gedung Sinta, Bandongan, Kabupaten Magelang, Senin (18/2). Dihadiri anggota dari sembilan komunitas. Yang kini semuanya berada di bawah naungan Simolodro, wadah suporter pertama PPSM.

“Dulu Simolodro sempat punya 36 korwil (koordinator wilayah). Tetapi seiring situasi saat ini hanya sembilan komunitas. Itu yang terdaftar resmi. Ini akan terus kami kembangkan,” kata Ketua Simolodro Magalang Yusuf Candra di sela acara.

Kesembilan komunitas yang berafiliasi ke Simolodro, antara lain: Escort Pride (Payaman), Simbah (Bandongan), Jampez (Pakis), Salam Extreme (Salam), Black Lion (Kaliangkrik), Palu Maut (Windusari), Simaut (Magelang Utara), Sidotopo and Friends (Sidotopo), dan Bendemen (Karanggading).

“Kami ingin lebih besar dan lebih bisa berkontribusi kepada klub atau tim. Tetapi syaratnya satu. Tim harus terjun di kompetisi,” tegasnya. Simolodro akan terus mendorong PPSM untuk ikut kompetisi. “Apa pun caranya,” tandas Candra. Seperti yang telah dilakukan di Piala Soeratin. Bersama komunias suporter lainnya, Simolodro allout mendukung PPSM Yunior untuk ikut terjun berkompetisi.

Turut hadir para sesepuh Simolodro. Di antaranya, Samsuri, presiden Simolodro pertama. Didampingi Lukas, Kaboel, Supri Tugiyo, dan lainnya. Turut hadir perwakilan wadah suporter PPSM lainnya dari Squadra Macan Tidar (SMT) dan Gate 1.

“Simolodro adalah organisasi suporter resmi yang terdaftar di PSSI. Bersama Slemania, Brajamusti, Paserbumi, Pasopati, dan Panser Semarang. Artinya keberadaan kita (Simolodro) diakui secara nasional,” ujar Samsuri saat mengobarkan semangat anggota Simolodro.

Nama Simolodro tak muncul begitu saja. Tapi ada rentetan sejarahnya. Selama mengawal PPSM, tim yang pernah berkiprah di Divisi Utama dan sempat menjadi empat besar Piala Indonesia 2012 di bawah pelatih Danurwindo.

Saat itu ada beberapa pilihan nama. Mulai Magelang Mania, Paku Bumi, Macan Tidar, Sawunggaling, dan lainnya. Tetapi kemudian dipilih nama Simolodro, jagoan yang lahir di Gunung Tidar dan kemudian berjaya. “Filosofinya, kami juga ingin berjaya membawa nama Magelang. Apalagi PPSM adalah salah satu klub pendiri PSSI melalui IVBM (Indonesische Voetbal Bond Magelang) yang berdiri 1919,” jelasnya.

Pada kesempatan itu Samsuri menyerahkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) Simolodro yang sudah ada sejak 17 tahun silam. Untuk diperbaiki sesuai perkembangan zaman. Turut diserahkan tutup kepala warna merah, yang selalu dikenakannya saat melawat bersama PPSM.

“Dulu PPSM warnanya merah. Tidak tahu kenapa sekarang jadi oranye. Yang jelas, topi merah bertuliskan Simolodro dan PPSM ini sudah bertahun-tahun menemani saya dan PPSM bertanding,” ungkapnya.

Samsuri berharap sepak bola Magelang bisa bangkit. Di mana salah satu tolok ukurnya adalah ikut berkompetisi. Mengingat satu tahun terakhir ini PPSM senior harus menjalani larangan kompetisi. Sebagai hukuman PSSI karena tidak mengikuti Piala Indonesia. (yog/tif)