JOGJA – Pengenalan surat suara (susur) kepada para penyandang disabilitas bukan perkara yang mudah. Terutama bagi penyandang tuna netra. Mereka membutuhkan template braile supaya bisa meraba sendiri.

Itu diungkapkan oleh Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kota Jogja Winarsih, 40. Dia meminta penyelenggara dalam hal ini KPU Kota Jogja gumregah.

“Jadi selama ini kami sosialisasi itu hanya awang-awang saja. Menceritakan besok polanya, calegnya siapa saja dan tata urutan mencoblos. Kami sendiri belum tahu fisik surat suara seperti apa,” jelasnya pada Senin (18/2).

Perempuan yang akrab disapa Wiwin itu menambahkan, khusus bagi tuna netra surat suara yang digunakan berbeda dengan surat suara pada umumnya. Meski telah mengetahui skema surat suara braile namun wujud fisik belum terpegang. Tidak hanya sekali dua kali, Wiwin kerap mendapat pertanyaan dari rekan tuna netranya.

“Ya saya tidak bisa menjawab. Kami hanya meminta bersabar menunggu datangnya surat suara dengan template braile,” tuturnya.

Dia juga memberikan catatan berdasarkan pengalaman penyelanggaraan Pemilu 2014. Kala itu surat suara bagi tuna netra memiliki ukuran yang besar. Kendala ditemui saat harus membuka dalam kotak bilik suara. Meski ada pendamping yang bisa membantu.

Karena itulah Wiwin mendorong agar alat peraga, khususnya template braile terdistribusi. Ini untuk mengantisipasi sosialisasi berulang. Karena dalam setiap pertemuan, Wiwin tidak bisa berbicara banyak tanpa adanya bantuan alat. Dia juga berharap agar distribusi tidak mepet dengan pelaksaan pencoblosan.

“Minimal untuk peraga saja jadi kami bisa secepatnya menjelaskan. Kemarin sempat tanya tapi katanya akhir Maret. Ini kelamaan dan sedikit mepet dengan pelaksanaan pencoblosan,” katanya.

Ketua KPU Kota Jogja Hidayat Widodo berjanji akan secepatnya mengirimkan alat peraga. Hanya saja terkait distribusi tetap wewenang KPU Pusat. Kabar terakhir menyebutkan surat suara untuk Jogjakarta akan dikirim 25 Maret.

Dalam distribusi tersebut juga termasuk surat suara braile. Inilah mengapa pihaknya belum bisa memberikan peraga hingga saat ini. Hanya saja dia meminta pendamping tetap sosialisasi terkait surat suara braile.

“Semua Jogjakarta jadwal terimanya 25 Maret. Tapi kemungkinan akan maju tergantung proses cetak. Untuk tuna netra memang sudah disiapkan surat suara jenis braile,” katanya. (dwi/pra)