TURUN dari kapal wisata ke terminal penumpang Tanjung Emas, semua turis asing naik bus menuju Borobudur lewat jalan tol. Pemandu wisata pun penuh semangat menjelaskan panorama di kedua sisi jalan tol tersebut.

Sayang, bus-bus wisata itu berjalan terlalu cepat mengikuti kelincahan sang polisi pembuka jalan. Maklum, jalan tol bukanlah jalan wisata, perjalanan harus cepat, karena jalan tol harus dipacu dengan kecepatan minimal dan target kunjungan harus dipenuhi. Perjalan lewat jalan tol yang hanya 30 menit itu tak memberi waktu bagi wisatawan asing menyaksikan panorama Pulau Jawa yang dikenal sangat indah di dunia.

Selepas jalan tol di Desa Bawen, bus harus melewati jalan umum yang dikenal sebagai jalan negara kelas I yang padat merayap. Bus-bus wisata itu pun berjalan lancar di bawah lindungan polisi pembuka jalan agar target waktu kunjungan ke Candi Borobudur on schedule.

Para wisatawan itu tampak tak bersemangat. Mereka tak lagi menyaksikan panorama yang indah, sejak kota kecil Ambarawa sampai kompleks Candi Borobudur menyaksikan pemandangan membosankan. Sepanjang jalan hanya bangunan yang terlihat: pabrik, gubug pedagang, rumah makan, dan hanya jalan raya itulah satu-satunya sarana menuju Borobudur.

Kondisi yang sama akan kita temukan bila wisatawan mau ke Borobudur lewat Bandara Adisutjipto. Perjalanan yang lambat tanpa panorama Pulau Jawa yang sejak zaman penjajahan Belanda sudah dikenal sangat eksotis. Sejak dahulu kala orang sudah mengenal kosa kata eksotis untuk menggambarkan sesuatu yang adiluhung, yang indah, dan yang tak terurai dengan kata-kata.

Dari kawasan Puncak bogor, kita bisa melihat hamparan kebun teh dan terucap kata: ”Wooo eksotis.” Dari Klangon, Cangkringan, puncak Gunung Merapi terlihat jelas. ”Hmm… eksotis.” Eksotisme tentu merupakan sesuatu yang menunjukkan ukuran yang sangat relative. Tapi, semua orang paham bahwa tidak semua objek pemandangan alam mempunyai karakter eksotis.

Menaiki Bukit Patuk, pemandu wisata menjelaskan kita sudah masuk wilayah Gunungkidul yang dikenal sebagai Jogjakarta lantai dua. Di bukit ini, wisatawan yang pernah naik ke Gunungkidul tak lagi melihat panorama hijau lagi.

Tepian kanan jalan sudah tertutup rumah makan. Tiada keindahan lagi, panorama yang eksotis dari bukit ini telah lama punah. Selepas Bukit Patuk, wisatawan dibawa bus ke objek-objek wisata Goa Pindul, Sri Gethuk, Pantai Baron, dan lain-lain tanpa ada celah melihat panorama alam lagi. Semuanya sama yakni rumah dan toko-toko bertebaran di kanan-kiri jalan, tahu-tahu sudah sampai objek di wisata.

Jika kita berada di puncak Gunung Purba Nglanggeran, sejauh mata memandang akan terlihat hutan yang hijau royo-royo. Gunungkidul di masa kini bukan lagi kawasan yang tak berhutan lagi. Namun, selama perjalanan di seluruh wilayah tak akan pernah terlihat hutan Gunung kidul yang indah.

Bahkan, saat pulang dari Pantai Baron dan melewati jalan raya selatan-selatan pun tak akan menemui panorama laut yang indah. Maklum, jalan itu dibangun sebagai jalan umum yang desain dan rancangan lebih mengedepankan aspek teknis jalan raya. Yang tentu, akan lebih mudah dibangun di kaki-kaki bukit di sepanjang pegunungan.

Bagaimana pun harus disadari bahwa jalan yang dirancang institusi negara itu bukanlah jalan wisata. Tetapi, jalan untuk kepentingan semua kendaraan dengan moda transportasi apapun.

Artinya, jalan itu tak perlu memikirkan kepentingan spesifik seperti pariwisata. Dengan demikian, jalan-jalan wisata di manapun tak harus dipikirkan oleh pemerintah pusat. Tetapi, justru para perancang di daerah itu sendiri yang harus lihai memanfaatkan jalan raya dan membangun jaringan jalan wisata di seluruh wilayahnya.

Para perancang wisata di daerah harus mampu mendeteksi semua panorama yang memenuhi kriteria eksotik dan diciptakan jalan akses ke jalan raya negara. Di perbukitan dalam jarak 200 hingga 500 meter dari bibir pantai yang curam itu, sangat banyak pemandangan yang eksotik dan harus disediakan jalan wisata untuk menyaksikan panorama Lautan Hindia yang sangat luas.

Pemerintah daerah pun bisa membangun jalan wisata semacam itu, cukup 5 hingga 10 kilometer saja untuk kembali ke jalan raya negara. Panorama alam itu adalah atraksi wisata yang dinikmati oleh wisatawan, yang oleh karena itu investor pun boleh memungut retribusi.

Sering kali birokrat di pemerintahan itu memandang retribusi dari aspek regulasi dari pemerintahan atasan semata. Kalau sudah ada ketentuan dari atas, cenderung aturan itu dipakai sebagai kacamata kuda dan menjadi tidak kreatif menciptakan kesempatan. Kalau pun mereka punya ide yang bagus dalam menciptakan potensi pendapatan daerah, sering kali takut melakukan eksekusi.

Birokrasi perlu diberi dorongan agar mampu berpikir bahwa atraksi wisata itu bukan terbatas pada suatu objek alam semata. Atraksi wisata itu dapat diciptakan dengan kreatif asal alam yang dipasarkan mengandung pengertian eksotik. Tentu, bukan hanya satu aspek saja, para perancang harus menciptakan suatu objek itu menjadi eksklusif yang berbeda dari lain.

Berbeda dengan pengertian eksotisme, maka eksklusivisme diciptakan serta dibentuk agar menjadi unsur pembeda dari yang lain. Di Jawa Tengah, banyak kita temukan air terjun di mana-mana. Namun, dikelola dengan cara yang sama, yang umumnya meniru suatu objek wisata yang telah ada lebih dahulu.

Semua yang disaksikan wisatawan tidak ada bedanya antara objek wisata yang satu dengan lainnya sehingga melihat salah satunya saja sudah terwakili dengan yang lain. Padahal, untuk setiap objek air terjun dapat diciptakan rancangan yang berbeda-beda dan dibentuk sebagai objek wisata yang eksklusif. Hal yang sama dapat kita saksikan, objek wisata pantai di manapun. Seolah seragam, objek yang baru meniru objek yang sudah lama eksis.

Sering kali kita menyaksikan suatu objek wisata sangat eksotik. Tetapi, menjadi objek wisata yang medioker karena tak menimbang eksklusivitas dari objek itu sendiri. Dalam banyak kasus pengelolaan suatu objek wisata, para pengelola lupa bahwa pariwisata adalah bisnis pelayanan yang harus mengutamakan keunggulan dalam memperlakukan wisatawan dari manapun. (amd/mg4)