Dulu, mayoritas warga memandang sebelah mata. Kini, pemerintah desa ingin mengembangkan ide Kampung Lidah Buaya di seluruh dusun. Agar perekonomian warga terangkat.

GUNAWAN, Gunungkidul

HANYA bermodal sekali bertanya, Radar Jogja bisa sampai ke kampung itu. Tanpa tersesat. Tidak sulit menemukan kampung yang terletak di Dusun Jeruk Legi, Desa Katongan, Nglipar, Gunungkidul, itu. Apalagi, nama kampung itu cukup terkenal.

Dari pusat kota Wonosari juga hanya dibutuhkan waktu perjalanan sekitar 20 menit dengan mengendarai sepeda motor.

Selamat datang di Kampung Lidah Buaya. Kampung ini belakangan memang menjadi jujukan. Seperti wisatawan yang ingin sekadar berswafoto dengan backround tanaman lidah buaya berjejer. Hingga instansi pemerintahan dari berbagai daerah yang ingin ngangsu kaweruh.

”Setiap bulan sedikitnya ada enam sampai tujuh instansi berkunjung. Mulai dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur,” tutur Alan Efendhi, penggagas Kampung Lidah Buaya.

Seperti saat Radar Jogja ke Kampung Lidah Buaya beberapa waktu lalu. Ada beberapa orang dengan pakaian batik mengamati tanaman lidah buaya yang tertanam di pot. Dari name tag yang terpasang di bagian dada sebelah kanan, tampaknya, mereka adalah aparatur sipil negara.

Alan tak begitu kaget dengan perputaran roda perekonomian di Kampung Lidah Buaya saat ini. Namun, dia seolah masih tak percaya bahwa banyak pengunjung yang bersinggah ke kampung halamannya. Apalagi, di antara mereka adalah instansi pemerintahan.

Maklum, saat merintis pada 2014 lalu, langkah Alan menanam lidah buaya di halaman rumahnya dipandang sebelah mata oleh sejumlah tetangganya. Jamak yang meragukannya. Bahkan, ada pula yang menolak mentah-mentah ajakan Alan untuk menanam lidah buaya.

”Waktu itu banyak yang bertanya, untuk apa menanam lidah buaya,” kenang Alan yang saat itu masih bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta.

Dibantu Sumarni, sang ibu, Alan tetap menanam bibit lidah buaya berjenis Aloe Chinensis Baker yang dibelinya dari Sidoarjo, Jawa Timur. Di halaman rumahnya.

Beberapa orang yang semula memandang sebelah mata kemudian berbalik arah. Dua tahun berselang, persisnya pada 2016, mereka kaget dan tertarik dengan perputaran uang dari lidah buaya.

Ya, Alan memiliki produk penganan dan minuman olahan. Semuanya berbahan lidah buaya. Contohnya, keripik, dodol, dan teh celup.

Menurut Alan, seluruh bagian tanaman lidah buaya bisa diolah. Bagian kulit, misalnya, menjadi bahan teh celup.

”Lendirnya bisa untuk sabun,” tuturnya, bangga.

Kini, seluruh pekarangan rumah warga tidak ada yang kosong. Penuh dengan tanaman lidah buaya. Warga Dusun Jeruk Legi yang semula memandang sebelah mata, kini ikut menggeluti manisnya menanam lidah buaya.

”Sejak setahun terakhir banyak wisatawan yang datang,” ujarnya.

Di sini, wisatawan tidak hanya bisa berswafoto. Mereka juga dapat melihat langsung proses budidaya hingga pengolahan lidah buaya menjadi penganan dan minuman olahan. Sebab, dalam perjalanannya, Alan menggandeng kelompok wanita tani (KWT). Anggotanya berjumlah 100 orang. Mereka berbagi tugas. Ada yang bertugas memberikan penjelasan seluk-beluk lidah buaya kepada wisatawan. Ada pula yang berperan mengolah dan mempersiapkan oleh-oleh untuk dijual.

”Harganya bervariatif. Keripik lidah buaya Rp 10 ribu per bungkus,” sebutnya.

Kepala Desa Katongan Jumawan mendukung penuh berkembangnya perekonomian di wilayahnya. Khususnya di Dusun Jeruk Legi. Apalagi, dusun yang mendapat predikat sebagai Kampung Lidah Buaya itu juga menjadi wisata edukasi.

”Nanti akan ditanam di lima dusun lainnya. Agar perekonomian warga terangkat,” katanya. (zam/tif)