JOGJA – Aksi vandalisme di Kota Jogja sudah sangat mengkhawatirkan. Tangan-tangan jahil tak lagi menyasar tembok-tembok pinggir jalan. Tapi mulai menyentuh bangunan cagar budaya. Salah satunya Monumen Serangan Oemoem 1 Maret (SO1M). Cat berbentuk tapak tangan di dinding relief monumen. Sedikitnya ada tujuh cat tapak tangan. Juga cipratan cat warna-warni di lantai dan tembok belakang monumen.

Kepala Museum Benteng Vredeburg Suharja menyesalkan aksi tersebut. Terlebih objek sasaran corat-coret cat adalah relief cerita sejarah. Tepatnya pada relief pertemuan Panglima Besar Jenderal Soedirman dengan Letkol Soeharto dan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Hamengku Buwono IX. Dari 25 relief yang ada, lima di antaranya menjadi objek vandalisme. Posisi kelima relief saling berdekatan.

“Kalau dilihat dari tapaknya (tangan, Red), pelaku mungkin usia anak hingga remaja. Tapi kami tidak tahu siapa pelaku sebenarnya,” ungkapnya Selasa (19/2). Suharja menduga aksi corat-coret terjadi Jumat (15/2) malam. Diketahui petugas cleaning service Sabtu (16/2) pagi. Hari itu juga dilaporkan ke pengeloma monumen. Dan dibersihkan kemarin. Karena Sabtu – Minggu petugas libur.

Kegeraman Suharja bertamah saat mengetahui petugas kebersihan kesulitan membersihkan cipratan cat dan tapak tangan tersebut. Dia menegaskan, vandalisme adalah tindakan tak terpuji. Apalagi objeknya bangunan cagar budaya. Menurutnya, hal itu bisa dijerat pidana. Masuk kategori perusakan benda cagar budaya. Pelaku bisa dikenai hukuman kurungan selama lima tahun dan denda maksimal Rp 10 miliar. Ketentuan itu mengacu pada pasal 55, Undang – Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.  “(Hukuman, Red) itu bisa jadi efek jera. Apalagi vandalisme ini bukan pertama kalinya,” ungkap Suharja.

Koordinator Konservator Museum Benteng Vredeburg Darsono menduga pelakunya anak-anak jalanan yang kerap berkeliaran di kawasan tersebut. Menurutnya, mereka sering menerobos masuk area monumen lewat pagar sisi selatan.

Dia telah berupaya membersihkan cat tapak tangan menggunakan semprotan air. Tapi hasilnya tak maksimal. Dia menduga, cat yang digunakan pelaku bukan jenis cat tembok. Karena wujudnya seperti lapisan karet. Untuk mengembalikan warna seperti sediakala hanya dengan mengecat ulang dinding relief tersebut. Sekaligus dilakukan penambalan lapisan dinding relief yang terkelupas saat dibersihkan.

“Mungkin besok (hari ini) kami bersihkan lagi. Nantinya dicat hitam yang ada tapak catnya. Kalau yang dinding batu dan lantai monumen akan kami sikat dan semprot dengan air,” jelasnya.

Kerusakan relief Momumen SO1M tidak kali ini saja. Tahun lalu dinding relief juga rusak parah. Wajah para tokoh terlepas. Bahkan ada hidung tokoh yang hilang karena dipukul batu. Perbaikannya pun harus melibatkan seniman patung. Untuk merestorasi relief. Restorasi selesai Oktober 2018.

Di sekitar momumen sebenarnya telah terpasang CCTV. Namun, kamera pemantau tak berfungsi maksimal. Karena letak kamera berada di sisi timur monumen. Demi keamanan monumen, Darsono berencana menambah CCTV dan memasang lampu di sisi relief. Sejauh ini spot tersebut tak terpantau CCTV dan gelap ketika malam. (dwi/yog/tif)