PURWOREJO – Pembibitan yang dilakukan masyarakat di Kecamatan Kemiri, Purworejo, sudah menuai hasil. Setidaknya, pelaku pembibitan bisa hidup dari hasil usahanya. Namun keberadaannya dinilai masih jalan timpang karena mereka kurang mendapat perhatian dari Pemkab Purworejo.

Penilaian ini disampaikan anggota DPRD Purworejo Ngadianto, Selasa(19/2). Menurutnya, sebenarnya usaha tani bibit yang dilakukan masyarakat Kemiri itu bisa menjadi kebanggaan dan ikon Purworejo.
“Usaha ini dilakukan tidak dari kemarin sore. Ada proses panjang yang dilakukan hingga puluhan tahun,” kata politisi PKS ini.

Dia melihat apa yang dilakukan pelaku usaha bibit mulai tanaman konversasi maupun tanaman perkebunan telah memberikan kontribusi besar bagi kesejahteraan mereka. Tidak saja pelakunya, namun juga mengimbas kepada masyarakat lain seperti perantara dan tengkulak. “Banyak juga pelaku usaha yang memperkerjakan warga,” tambahnya.

Sepengetahuannya, produksi bibit yang dilakukan tidak hanya berputar di Purworejo, namun telah merambah hampir seluruh negeri. Kualitas yang baik bisa menghasilkan kuantitas yang tinggi serta berjalan terus menerus. “Bisa dikatakan mereka telah teruji,” tandas Ngadianto.

Meski demikian, yang menjadi pertanyaan adalah peran dari Pemkab Purworejo yang masih minim. Hal ini bisa dilihat dari setiap statemen OPD yang membidangi pertanian. Dalam berbagai statemen, setiap menyebut komoditas unggulan Purworejo, hampir tidak pernah disebut produk “usaha tani bibit” tetapi hanya durian, manggis, padi, jagung dan komoditas lain. “Untuk bibit, tidak pernah diungkapkan. Ini yang jadi pertanyaan kami,” ujarnya.

Seharusnya, pemkab tidak saja berbicara mengenai hasil akhir dari sebuah tanaman. Namun harus lebih jauh lagi mengupas dan memperhatikan proses keberadaan bibit. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seperti memfasilitasi sertifikasi benih secara masal untuk peninkatan kualitas produk, membina managemen usaha tani untuk penguatan kelembagaan, dan membantu pemasaran bibitnya dengan memanfaatkan produk untuk program kegiatan di perangkat daerah.

“Pemkab perlu lebih intens dan menyentuh para pelaku usaha bibit ini. Tentunya menjadi kebanggaan kita semua jika bibit yang dari Purworejo itu termasuk bibit-bibit unggulan,” ungkap Ngadianto.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Purworejo Bambang Asmara Jati tidak sependapat jika dikatakan pihaknya tidak memberikan perhatian. Dinas yang dipimpimpinnya selalu memberikan pembinaan terhadap para pelaku usaha tani bibit di Kemiri. “Pemasaran usaha bibit di Kemiri, mayoritas sudah bagus, tidak saja lokal tapi juga nasional,” kata Bambang.

Pihaknya pun terus berusaha memunculkan bibit berkualitas unggul. Salah satu contohnya menggelar lomba durian lokal unggul di mana pemenangnya akan dilakukan pengamatan selama tiga tahun. Jika memang bisa stabil akan diusulkan ke kementerian untuk mendapatkan sertifikat varietas unggul lokal.
“Selanjutnya dari durian unggul yang mendapatkan sertifikat akan dikembangkan untuk pembibitan,” jelas Bambang. (udi/laz/mg2)