STPMD (Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa) berdiri dengan nama APMD tahun 1965. Pada 1987, Program Studi (Prodi) S1 Ilmu Komunikasi APMD lahir dan berupaya mengembangkan komunikasi pemberdayaan masyarakat dan desa. Meski kini masyarakat dunia tengah dihadapkan pada era revolusi industri 4.0, Prodi Ilmu Komunikasi STPMD tetap berorientasi pada pemberdayaan.

Prinsip komunikasi pemberdayaan masyarakat desa itu pun dijabarkan dalam beberapa visi. Pertama, terwujudnya tata kelola Prodi Ilmu Komunikasi yang baik. “Yang baik seperti apa, yakni berdasar prinsip-prinsip good governance yang harus dilakukan,” ujar Kaprodi Ilmu Komunikasi sementara Sugiyanto SSos, MM saat ditemui Radar Jogja pekan lalu.

Lebih lanjut Sugiyanto menuturkan, visi lain dari prodi yakni mengembangkan penelitian di bidang komunikasi pemberdayaan masyarakat dan desa. Lalu, ada pula visi melakukan aksi pengabdian masyarakat di bidang komunikasi. Aksi itu diarahkan untuk menguatkan kompetensi alumni.

Sementara itu ada juga beberapa tujuan yang hendak dicapai. Di antaranya, tata kelola prodi yang kredibilitas, akuntabilitas, tanggung jawab, dan transparasinya terbuka pada siapa saja. Selain itu, prodi juga terus berupaya mengoptimalkan implementasi, meningkatkan kapasitas dosen, hingga mahasiswa.

Peningkatan kapasitas dosen misalnya, dituntut untuk studi hingga S3. “Sampai saat ini di prodi kami sudah ada tiga dosen bergelar doktor. Nanti semoga akan disusul dua lagi yang masih sekolah,” ungkap Sugiyanto. Dari total 12 dosen tetap, Prodi Ilmu Komunikasi STPMD juga kerap bekerja sama dengan para praktisi komunikasi atau pun dosen prodi lain untuk mengajar. Selama materi yang diajarkan masih relevan.

Sedangkan untuk menunjang kapasitas mahasiswa, baik kurikulum, praktikum, penelitiam, hingga skripsi, tetap diarahkan pada komunikasi pemberdayaan. Dengan prinsip komunikasi pemberdayaan masyarakat dan desa itu, beberapa mahasiswa bahkan berhasil meraih prestasi.

Sugiyanto mengungkapkan, mahasiswa bernama Rian Afriansyah berhasil menembus festival film dunia berkat karyanya. Yakni sebuah film dokumenter yang menceritakan anak-anak di pelosok Sumatera berjudul 15,7 Kilometer. “Dari 4.500 judul film, karya mahasiswa kami itu masuk 50 besar,” katanya. Meski tak mendapat hadiah, Rian berkesempatan menghadiri undangan PBB untuk mengikuti screening dan diskusi di Tiongkok baru-baru ini.

Ada pula mahasiswa lain bernama Aditya yang membuat film pendek. Isinya tentang desa wisata di Nglanggeran, Gunungkidul. Film pendeknya berhasil diputar di beberapa TV nasional dan Youtube. Sugiyanto menekankan, pada dasarnya mahasiswa belajar untuk mengkomunikasikan potensi-potensi yang ada di desa.

Hal itu pula yang diakui menjadi keunggulan Prodi Ilmu Komunikasi STPMD dibandingkan prodi-prodi serupa. Prinsip terkait komunikasi pemberdayaan masyarakat dan desa itu pun diakui Sugiyanto mulai dilirik prodi-prodi lainnya. Pemberdayaan itu pula yang menjadi payung kurikulum pembelajaran di kampus.

Secara garis besar, ilmu komunikasi yang diajarkan tetap menggunakan teori komunikasi pada umumnya. “Teori yang ada diturunkan menjadi beberapa mata kuliah khas. Seperti Pembaharuan Desa, Tata Kelola Desa, hingga Komunikasi Pemberdayaan,” ungkapnya.

Intinya, Prodi Ilmu Komunikasi STPMD berupaya menanamkan pola pikir komunikasi yang berdaya bagi masyarakat dan desa. Sebab, segala potensi yang dimiliki desa dan masyarakatnya banyak yang belum diolah dan disentuh. Melalui komunikasi, diharapkan mampu menggali lebih banyak sumber daya yang dimiliki Indonesia. Khususnya daerah-daerah terpencil di nusantara.

Agar capaian ilmu lebih maksimal, prodi juga melakukan kerja sama dengan beberapa stakeholder. Seperti Polda, media, hingga rumah sakit. Beberapa kegiatan pemberdayaan pun sempat melibatkan CSR (Corporate Social Responsibilty) Pertamina. Tak hanya itu, kerja sama dengan universitas luar negeri seperti Malaysia juga telah dijalin.

Menjelang tahun ajaran baru kelak, Sugiyanto berharap kian banyak lulusan SMA yang berminat mendalami ilmu-ilmu terkait potensi desa. Dia tak ingin para pemuda menganggap remeh dan kuno sumber daya di pelosok-pelosok negeri. Bagi pihak prodi, ada banyak hal luar biasa yang terdapat di desa. Oleh karena itu, butuh generasi penerus bangsa yang mau peduli mengelolanya. (cr9/laz/mg4)