Adnyah Cintya Laksita akrab dan tertarik dengan dunia perfilman sejak kecil. Perhatiannya dengan kondisi lingkungan membuat karya film dokumenternya penuh pesan.

ROTUN INAYAH, Jogja

SUDAH tak terhitung lagi berapa ekor kucing yang dibawa pulang Andyah Cintya Laksita. Kucing-kucing yang berasal dari pinggir jalanan di Kota Jogja itu tidak hanya dibawa ke rumah, tapi juga dirawat. Bahkan, ada pula hewan rumahan itu yang harus diobati dengan ekstra hingga sembuh.

”Dalam kesehariannya, Cintya memang selalu memberikan perhatian kepada kucing, sampai terkadang tidak memikirkan kesehatannya sendiri ketika terkena hewan yang sakit,” tutur Rosalina Sri Redjeki menceritakan kebiasaan salah satu anaknya itu saat ditemui di SD Pangudi Luhur Jogja, Rabu (20/2).

Namun, kebiasaan itu yang justru mengantarkan bocah kelas V SD Pangudi Luhur tersebut ke Italia. Ya, Cintya, sapaan Andyah Cintya Laksita, akhir Oktober lalu berangkat ke Negeri Spaghetti. Mengikuti Cortocircuito-Savigliano Film Festival 2018 di Kota Savigliano, sebuah kota yang berjarak sekitar 55 kilometer dari Kota Turin.

Dalam ajang bergengsi itu, bocah 11 tahun tersebut juga menyabet penghargaan mentereng. Yakni, Premio Giovani Award. Film dokumenter karyanya sukses menyisihkan beberapa nomine lain. Termasuk di antaranya dua nomine perwakilan tuan rumah. Padahal, dewan juri festival itu dipimpin Michelangelo Pistoletto, pelukis kawakan Italia.

”Dan Profesor Umberto Mosca, seorang akademisi,” tutur Cintya, bangga.

Bocah yang tinggal di Gunungketur, Pakualaman, Kota Jogja, ini tak mengetahui persis karyanya bisa menyabet penghargaan dalam ajang tahunan itu. Film dokumenter berjudul Jamilah’s Friends hanya berkisah tentang kucing-kucing jalanan. Juga sedikit menggambarkan lingkungan dan interaksi masyarakat serta suasana khas Kota Jogja saat malam hari.

”Ceritanya, ada seorang dokter bersama beberapa temannya memberi makan kucing-kucing liar yang berkeliaran bebas di Kota Jogja,” tutur Cintya sedikit menyinggung narasi film karyanya.

Film pendek Jamilah’s Friend yang dibuat Andyah.

Bungsu dari tiga bersaudara ini memang sengaja ingin menyampaikan pesan khusus dalam karyanya. Dia sangat berharap tak ada lagi kucing yang ditelantarkan, apalagi dilukai. Agar Cintya juga tak lagi membawa kucing yang kurang beruntung ke rumahnya.

Bagi sutradara cilik ini, penghargaan di Italia bukan kali pertama. Satu bulan sebelumnya, persisnya pada September 2018, Cintya dianugerahi Special Award dalam Viva Film Festival di Sarajevo, Bosnia-Herzegovina.

Film dokumenter yang dibuat hanya dalam lima jam ini juga menuai apresiasi penonton saat Saratov Suffering International Film Festival of Documentary Drama serta International Ecological TV Festival di Rusia.

Dunia perfilman, bagi bocah yang bercita-cita jadi pelukis ini, bukan hal asing. Dia sering mengikuti aktivitas Adam Hendarto-sutradara sekaligus pendiri Orca Films-yang tak lain adalah pamannya.

”Sehingga tidak kesulitan saat membuatnya (Jamilah’s Friends), Red),” ungkap Cintya mengaku punya ketertarikan dengan dunia perfilman.

Kendati begitu, Cintya dalam proses pengambilan gambar Jamilah’s Friends dibantu Oktovianus Patintingan. Mahasiswa Jogja Film Academy ini didapuk sebagai kameramen. Sedangkan produksinya menggandeng Orca Films. Sebuah rumah produksi independen di Jogja yang didirikan pamannya. Sosok pria yang pernah menjadi produser Telemedia Budapest, Hungaria dan program director Liputan 6 SCTV. (zam/riz)