Kecamatan Dlingo yang berada di ujung timur Kabupaten Bantul punya potensi pariwisata yang luar biasa. Selama beberapa tahun, sejumlah kawasan di Dlingo berkembang sebagai destinasi wisata yang menarik. Mulai dari wisata alam hingga budaya. Beberapa desa yang tumbuh dan berkembang menjadi objek wisata itu berada di Desa Mangunan dan Desa Muntuk.

Untuk Desa Mangunan objek wisatanya seperti Hutan Pinus Mangunan, Watu Lawang dan Bukit Panguk Kediwung. Sedangkan di Desa Muntuk antara lain Becici, Jatisari Seropan dan Lintang Sewu.

“Padahal kalau mau diseriusi, masih banyak lokasi-lokasi lainnya di luar Mangunan dan Muntuk yang panorama alamnya tidak kalah menarik. Dlingo ini memang punya potensi yang dasyat,” ujar Anggota Komisi B DPRD DIY Aslam Ridlo saat Kampanye Sadar Wisata 2019 Dinas Pariwisata DIY di Balai Dusun Kedung Dayak, Jatimulyo, Dlingo, Bantul pada (19/2).

Salah satu daerah yang dirujuk Aslam adalah Desa Jatimulyo.. Meski pertanian masih menjadi basis utama masyarakat Jatimulyo, namun tidak ada salahnya potensi pariwisata di desa ini juga dikembangkan.

Upaya mendorong agar sektor wisata di Desa Jatimulyo itu menggeliat dilakukan dengan mengajak masyarakat berpartisipasi secara aktif dalam Kampanye Sadar Wisata yang diinisiasi Dinas Pariwisata DIY.

“Kepentingan dari kegiatan ini sebenarnya sederhana. Bagaimana agar tumbuh kembangnya wisata di Dlingo bukan hanya dinikmati Desa Mangunan dan Muntuk. Tapi sampai ke Jatimulyo dan Temuwuh,” ujarnya di depan peserta kampanye sadar wisata.

Aslam ingin agar objek-objek wisata di Jatimulyo dan Temuwuh juga berkembang. Itu agar dampak ekonomi tumbuhnya pariwisata di Dlingo juga bisa dinikmati masyarakat yang berada di sisi selatan Kecamatan Dlingo.

“Multiplier effeck ekonomi dan pariwisata bisa dinikmati masyarakat Dlingo secara keseluruhan,” kata anggota dewan mewakili Dapil Bantul Timur ini.

Multiplier effect merupakan kegiatan yang dapat memacu timbulnya kegiatan lain. Pariwisata akan menggerakkan sektor-sektor lain yang menjadi pendukungnya. Komponen utama industri pariwisata adalah daya tarik wisata berupa destinasi dan atraksi wisata.

Sekretaris Dinas Pariwisata DIY Titik Sulistyani menjelaskan, instansinya terus mendorong para pengelola desa dan kampung wisata agar go internasional. Nantinya antarkampung dan desa wisata dibuat standardisasi melalui lomba desa wisata. Ini sejalan dengan visi DIY menjadi tujuan wisata terkemuka di Asia Tenggara. “Muaranya demi meningkatkan perekonomian masyarakat agar lebih sejahtera,” ungkap Titik. Diingatkan, mengembangkan desa wisata dibutuhkan beberapa prasyarat. Utamanya adalah sikap dan suasana guyub di masyarakat.

Lebih jauh dikatakan, desa wisata ini tidak hanya destinasi saja. Tapi semua sendi kehidupan di masyarakat bisa jadi aset wisata. Wisatawan mulai tertarik mempelajari kehidupan masyarakat di desa wisata. “Belajar budaya di desa wisata. Itu perlu melibatkan seluruh masyarakat,” bebernya. (kus/mg3)