JOGJA – Gunung Merapi memang terus bergejolak. Mengeluarkan awan panas dan lava pijar. Kendati demikian, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIJ Hanik Humaida memastikan kondisi tersebut tak menyebabkan timbulnya rekahan dinding kawah di sisi barat. Kubah lava Merapi relatif stabil.

Soal adanya rekahan yang terlihat dari wilayah Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menurut Hanik, tak sepenuhnya benar. Sebab, berdasarkan data visual tak menunjukkan adanya deformasi pada Merapi. Tidak ada perubahan fisik secara signifikan.

“Kalau pun ada (rekahan, Red) bisa saja retakan karena cuaca. Tapi untuk memastikan akan kami cek lebih lanjut,” katanya, Kamis(21/2).

Menurut Hanik, saat ini Merapi memasuki fase lanjutan. Luncuran awan panas, salah satu tandanya. Diawali Selasa (29/1), terjadi tiga kali luncuran dengan jarak terjauh 1.400 meter.

Berlanjut Kamis (7/2). Terjadi sekali luncuran hingga 2.000 meter. Lalu Senin (11/2). Juga sekali luncuran berjarak 400 meter. Seminggu kemudian (18/2) kembali terjadi luncuran wedhus gembel tujuh kali. Dengan jarak luncuran terjauh mencapai seribu meter.

Jarak luncuran awan panas dan guguran lava yang terpantau hingga saat ini 2.000 meter. Sedangkan berdasarkan aktivitas kubah lava, Hanik memprediksi jarak luncuran terjauh tak akan lebih dari 3.000 meter. Sementara jarak permukiman terdekat dari puncak 4.500 meter.

Dibanding erupsi 2006 dan 2010, lanjut Hanik, produksi magma Merapi saat ini tergolong rendah. Itu menjadi perbedaan paling menonjol.

Imbasnya, intensitas guguran lava maupun awan panas tidak sebanyak dulu. Karena suplai magma terkuras pada erupsi 2010.

Hanya, saat ini terjadi peningkatan kegempaan. Dalam sebulan terakhir terpantau 14 kali gempa vulkanik dangkal (VB), 39 gempa multiphase (MP), 34 kali gempa low frequency (LF), 81 kali DG, dan 1.216 gempa guguran (RF).

“Tandanya suplai magma ke permukaan masih berlangsung. Memang ada peningkatan. Tapi dibandingkan periode 2006 dan 2010 memang jauh berbeda,” ujarnya.

Kasi Gunung Merapi Agus Budi Santoso menambahkan, pengamatan visual menggunakan kamera resolusi tinggi. Kamera tersebut terpasang di Posko Babadan dan Pos Jrakah. Tak tampak adanya rekahan di sisi barat.  “Up date visual foto setiap 15 menit,” ucapnya.

Untuk memastikan kabar adanya rekahan Merapi, Agus berencana menanyakan hal tersebut kepada warga setempat. Apakah mereka melihat langsung, atau hanya mendengar kabar.

Sementara itu, Giyanti, salah seorang warga Kaliurang Barat, Hargobinangun, Pakem, Sleman mengaku mengandalkan ilmu titen. Dia melihat bentuk puncak sisi barat lain dari biasanya. “Ketok ana sing cuil (kelihatan ada yang hilang sebagian),” katanya. Kondisi itu cukup mengkhawatirkannya.  Seandainya terjadi erupsi dan letusannya mengarah ke Kali Boyong. Seperti kejadian pada 1994.(dwi/yog/mg2)