PESTA Demokrasi (Pemilu 2019) sudah memperlihatkan tajinya, masyarakat sudah begitu riuh. Berbagai sudut sudah dibanjiri perdebatan antar pendukung. Mulai dari sudut-sudut dunia social hingga dunia maya. Namun yang disayangkan, perdebatan-perdebatan tersebut tidak diiringi dengan etika yang baik. Sehingga, pesta yang seharusnya menjadi ajang kedaulatan rakyat justru menjadi ajang peperangan rakyat seperti pada pesta sebelumnya.

PolMark Research Center memaparkan bahwa terdapat sekitar 4,3 persen responden mengaku hubungan pertemanannya rusak karena Pilpres 2014 (Kompas, 08/18). Berkaca dari temuan tersebut, seharusnya kita sama-sama belajar. Belajar bagaimana berkontribusi agar pesta lima tahunan ini tidak menjadi ajang peperangan lagi. Diantara kontribusinya adalah dengan menjadi pendebat yang dirindukan.

Pendebat yang dirindukan adalah pendebat yang mendidik dan menghibur. Mendidik karena penyampaiannya yang penuh keilmuan. Dan menghibur karena penanggapannya yang penuh kesantunan.

Debat yang Mendidik 

Debat yang baik adalah yang mendidik. Maka, sebaiknya kita menjadi pendebat yang dirindukan karena mendidik. Mendidik melalui penyampaian argumen-argumen yang berlandaskan ilmu. Sebagai bukti bahwa pernyataan kita bisa dipertanggungjawabkan. Pernyataan yang mencerahkan bukan memecahkan.

Menurut Gorys Keraf (2008), berargumen adalah sifat membujuk dengan cara memaparkan alasan berupa fakta-fakta, atau bukti-bukti suatu gagasan pemecahan suatu masalah. Masalah menjadi focus debat dan dikupas mendalam berlandaskankan ilmu. Sehingga, dalam perdebatan yang ada adalah saling mencari akar masalah dan solusinya, bukan malah menimbulkan masalah lagi.

Realita yang ada saat ini justru sebaliknya, rata-rata masyarakat malah menimbulkan masalah lagi setelah berdebat. Sehingga pentingnya mulai membudayakan debat yang mendidik sejak sekarang. Dengan begitu, debat bukan menjadi hal yang memecahkan. Kita justru berpartisipasi dalam mewujudkan salah satu cita-cita bangsa ini yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Debat yang Menghibur

Debat yang menghibur adalah yang penuh kesantunan. Karena dengan kesantunan hati bisa terketuk, hati bisa terhibur. Dengan begitu yang ada hanyalah kesenangan bukan kebencian, yang ada hanyalah keramahan bukan kemarahan.

Menurut Zamzani, dkk (2010), kesantunan merupakan perilaku yang diekspresikan dengan cara yang baik (beretika), atau dalam konteks ini adalah perilaku debat. Tujuan dari kesantunan adalah untuk membuat susana interaksi (debat) harmonis dan menyenangkan.

Santun dalam berdebat adalah ketika menanggapi pernyataan lawan. Lawan bukan seseorang yang kita benci dan rendahkan. Tetapi justru sebaliknya, kita harus santun padanya. Kita tetap menganggap ia sebagai saudara kita, kita menyayangi dan menjaga martabatnya.

Ringkasnya, memang sudah seharusnya kita menjadi pendebat yang dirindukan, yaitu dengan debat yang penuh kesantunan dan keilmuan. Karena tindakan tersebut selaras dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT, yaitu “Serulah (sampaikan) manusia pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran (ilmu)  yang baik serta bantahlah (tanggapi) mereka dengan cara yang lebih baik (santun)” (QS. An Nahl: 125).

Wallahua’lam.(ila)

*Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga, Ketua Pelaksana Laboratorium Pengembangan Profesi Pekerjaan Sosial (LP3S) UIN Sunan Kalijaga, Pemerhati Sosial, dan Santri di Pondok Literasi Baitul Kilmah.