JOGJA – Jogjakarta menjadi saksi Surabaya Bhayangkara Samator mempertahankan gelar Proliga 2019. Di babak final, Surabaya Bhayangkara Samator mengandaskan tim ibukota Jakarta BNI 46 dalam pertandingan empat set 3-1 (23-25, 25-20, 26-24, 25-17).

Dengan kemenangan ini, Surabaya Bhayangkara Samator mencatatkan tujuh kali juara Proliga. Sekaligus mengawinkan gelar prestasi yang diraih institusi Polri, karena di final Proliga Putri, PGN Popsivo Polwan menjadi jawara di ajang yang sama.

Sejak set pertama pertandingan berlangsung cukup ketat. Jakarta BNI 46 mampu mengendalikan permainan dengan unggul dua bola 25-23. “Set pertama kami memang tegang. Biasa di final,” kata Pelatih Surabaya Bhayangkara Samator Ibarsjah Djanu Tjahjono usai laga.

Momentum kebangkitan tim Kota Pahlawan ini terjadi di babak kedua. Menurunnya penampilan pemain Jakarta BNI 46, Osmel Camejo, bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Yosvani Gonzales Nicolas dkk. Di set kedua Surabaya Bhayangkara Samator mampu menyelesaikan set dengan keunggulan lima bola, 25-20.

Pertandingan ketat justru terjadi set ketiga, di mana Jakarta BNI 46 sebenarnya sempat unggul. Namun sejumlah kesalahan yang kerap dilakukan pemain BNI memaksa laga berlangsung deuce, hingga dimenangkan Surabaya Bhayangkara Samator 26-24.

Di set keempat, tampak mental para pemain Jakarta BNI 46 mulai runtuh. Bola-bola yang diperagakan Aji Maulana mudah terbaca. Sehingga Surabaya Bhayangkara Samator bisa menang mudah dengan skor 25-17.

Ibarsjah mengaku Jakarta BNI 46 cukup kuat hingga poin ke-16. Di atas poin itu, para pemain lawan banyak melakukan kesalahan. “Mereka kerap salah dalam serve, momentum dari kesalahan itu kami bisa manfaatkan dengan baik,” jelasnya.

Ibarsjah pun menyebut kemenangan timnya tak terlepas dari hasil catatan statistik yang dipakai tim pelatih. “Tim kami pakai aplikasi yang memuat statistik pertandingan, yang tidak dipakai tim lain. Kami analisa pola permainan dan dijawab dengan tiga set berikutnya itu,” ujarnya.

Sementara itu pemain terbaik putra Proliga asal Surabaya Bhayangkara Samator, Rendy Febriant cukup terkejut bisa memenangkan gelar kedua selama karir mengikuti Proliga. “Ya dari yang tidak ada harapan kami bisa juara. Memang cukup berat mempertahankan gelar juara,” terangnya. (bhn/laz/mg1)