SLEMAN – Usaha produksi kerajinan bambu di DIJ terus bergeliat. Seperti di sentra mebel bambu Gentan, Margoagung, Seyegan, Sleman. Sejak 1970 hasil hutan non kayu itu telah menjadi sumber penghidupan. Bagi sedikitnya 45 perajin bambu setempat.

Mereka tak lagi hanya memproduksi lincak (bangku santai). Tapi mulai mengembangkan sofa, gazebo, dan perabot rumah tangga lain. Juga aneka bentuk suvenir.

Para perajin bekerja secara berkelompok. Salah satunya kelompok Rosse Bambu. Beranggotakan 12 orang. Mereka mengembangkan produk laminasi bambu.

Lembaran bambu disatukan. Disusun rapi. Lalu dipres. Menjadi semacam papan. Yang siap disulap menjadi aneka bentuk mebel. Laminasi bambu ternyata lebih mahal dibanding papan kayu. Per meter kubiknya tembus Rp 20 juta. “Beda dengan kayu yang masih berkisar belasan juta,” ungkap Ketua Rosse Bambu Marzuni Selasa (26/2).

Menurutnya, produk bambu mampu bertahan hingga sepuluh tahun. Setelah melalui beberapa tahap pemrosesan. Dicuci bersih, dijemur, lantas di-oven. Seluruh tahapan itu untuk mencegah pelapukan.

Hasilnya, mebel bambu kualitas ekspor. Hanya saat ini para perajin belum mampu ekspor mandiri. Tapi masih mengandalkan jasa pihak ke tiga (trading). Sofa dan gazebo adalah produk ekspor utama. Selain masalah pemasaran, Marzuni mengaku masih mengalami kendala desain.

Ketua Asosiasi Bambu Sleman Eko Wiharyo optimistis bisnis bambu sangat prospektif. “Pemasarannya bisa sampai Maldives, Thailand, Tiongkok, dan lintas provinsi se-Indonesia,” ujarnya.

Potensi tersebut didukung keberadaan hutan budidaya bambu di Dusun Wulak Salak, Wurkisari, Cangkringan. Artinya, kebutuhan bahan baku bisa tercukupi. Tak kurang 35 jenis bambu dibudidayakan di tempat tersebut. Komiditas utamanya bambu wulung, petung, apus, dan tutul cendani.(cr7/yog/mg4)