GUNUNGKIDUL – Booming sektor pariwisata di Gunungkidul belum sepenuhnya membantu mengurangi angka kemiskinan. Bahkan, di wilayah pusat pariwisata sekalipun. Sebab, beberapa kecamatan yang notabene berada di jantung wisata masih tersasar program penanggulangan kemiskinan. Di antaranya, Kecamatan Saptosari, Playen, Semin, Gedangsari, dan Girisubo.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul Sri Suhartanta mengatakan, munculnya beberapa kecamatan di pusat wisata muncul sebagai sasaran program penanggulangan kemiskinan tidak serta-merta. Data itu muncul dari hasil pemetaan ulang yang dilakukan Pemkab Gunungkidul bersama Pemprov DIJ. ”Sebenarnya, acuannya (pemetaan) menggunakan data 2015. Tapi, kami juga melakukan verifikasi dan validasi,” jelas Sri di kantornya Rabu (27/2).

Sri menolak anggapan masuknya beberapa kecamatan ini akibat sektor pariwisata tidak sanggup mengurangi angka kemiskinan. Lantaran efek sektor pariwisata tidak terpusat di sekitar objek wisata. Melainkan ke berbagai sektor. Kuliner, contohnya.”Banyak warung makan maupun jasa yang tumbuh di sepanjang JJLS (Jalur Jalan Lintas Selatan),” tegasnya.

Hal itu, Sri menekankan, sebagai penanda bahwa dunia pariwisata membawa dampak positif bagi perekonomian. Dari itu, Sri meminta warga di sekitar obwis aktif. Ikut menjemput berkah dunia pariwisata. Seperti yang ditunjukkan warga di sekitar objek wisata Nglanggeran.”Kalau tidak (aktif), ya multiplayer effect pariwisata tidak terasa,” katanya.

Terkait penanggulangan kemiskinan di beberapa kecamatan, Sri menyebut ada beberapa program yang dicanangkan. Di antaranya, jambanisasi serta pemberdayaan dan pelatihan.”Ada Rp 64,8 miliar yang dianggarkan,” sebutnya.

Kepala Dinas Sosial Gunungkidul Siwi Iriyanti mengingatkan, peran penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) dan potensi dan sumber kesejahteraan sosial (PSKS) harus ditingkatkan. Peran mereka sangat vital dalam menekan angka kemiskinan. (gun/zam/mg4)