SLEMAN- Dialog Kebangsaan dengan tema ‘Islam, Kebangsaan, dan Perdamaian’ digelar di Auditorium Prof Dr Abdulkahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Kamis(28/2). Kegiatan dalam rangka rangkaian kegiatan Milad ke-76 UII ini diselenggarakan Universitas Islam Indonesia (UII) bekerjasama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Orwil DIJ ini menghadirkan narasumber Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir dan budayawan Emha Ainun Nadjib.

Haedar Nashir mengungkapkan ada kekerdilan cara memahami Indonesia. Sering cara membaca dan mengkontruski Islam Indonesia menggunakan tafsirnya sendiri dipakai untuk memukul pihak lain.”Bahkan menyempitkan penafsiran pihak lain. Sehingga berebut penafsiran,’’ jelasnya.

Selain itu, kekerdilan cara kita mengkonstruksi Islam, juga Islam muncul sebagai identitas. Haedar menyadari, organisasi ini hadir sebagai pilihan organisasi pergerakan. Organisasi sebagai wasilah untuk menuju tujuan yang lebih mulia. Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang membangun peradaban akhlaq mulia. “Narasi itu muncul, tapi kehilangan makna yang substantif. Lebih-lebih ketika Islam ditarik ke dalam ranah politik, kontruksi menjadi sangat kacau dan berbahaya” ungkapnya.

Emha Ainun Nadjib menyebut, Islam asasnya manfaat bukan kompetensi seperti yang ada di globalisasi. Dalam Islam tidak ada asas kompetensi. Adanya asas manfaat. Islam tidak berbicara tentang tafsir. Tapi Islam ngomong tadabbur. “Dalam Alquran itu adanya tadabbur. Sehingga keluarnya rahmatan lil ‘alamin. Bukan lin naas. Bukan rahmatan lin nas, rahmatan li anfusihim,’’ jelasnya.

Menurutnya, rumusnya dakwah adalah bil hikmah. Dakwah harus selalu dengan hikmah. Melalui dialog kebangsaan ini dia berharap akan semakin menyegarkan pemaknaan kita atas Islam yang identik dengan perdamaian. Pesan perdamaian Islam semakin dilantangkan dan bisa menjadi model perdamaian di Indonesia dan dunia.

Rektor UII Fathul Wahid menyampaikan, melalui dialog kebangsaan, UII dan ICMI berbagi kegalauan yang sama atas munculnya stigma terhadap wajah Islam yang sering diidentikkan dengan beragam peristiwa anti-kedamaian dan lunturnya nilai-nilai kebangsaan di sebagian anak bangsa.

Menurutnya Indonesia menjadi contoh yang indah. Indonesia dibangun di atas keragaman. Sejak berdirinya, republik ini tersusun dari anak bangsa dengan beragam latar belakang: suku, bahasa, dan agama. Keragaman ini oleh para pendiri bangsa telah dirangkai menjadi mozaik yang indah, yang diikat dengan persatuan.

Sebaliknya, hanya mengedepankan perbedaan akan menggadaikan hati nurani. Karenanya, di era paskakebenaran yang lebih mengedepankan emosi dibanding fakta, mengembangkan lensa kolektif yang dapat menerima keragaman dengan ikhlas, menjadi sangat menantang,” imbuh Fathul Wahid.

Dua hal yang berbeda, sudah seharusnya tidak selalu dianggap berdiri berseberangan secara diametral. Dalam banyak kasus, yang berbeda bisa saling melengkapi ketika nilai-nilai abadi seperti kejujuran, keadilan, dan kemanusiaan tidak dilanggar. “Semangat ko-eksistensi perlu dijaga dan dipupuk,” tandas Fathul Wahid.(din/mg2)