Pemerintah melarang kawasan rawan bencana (KRB) 3 Gunung Merapi untuk dibangun rumah hunian. Namun, tak sedikit korban erupsi pilih bertahan. Dengan segala konsekuensi. Kondisi itu membuat hati Yasmin dan Fajar tergerak. Untuk membangun masyarakat lereng Merapi.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

Langit mendung menyelimuti perjalanan Radar Jogja menuju Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Tepatnya di Dusun Pangukrejo. Sekitar tujuh kilometer dari puncak Merapi.

Kawasan itu termasuk ke dalam “zona merah”. Berdasarkan ketetapan pemerintah. Secara aturan kawasan itu tidak boleh menjadi tempat hunian. Kenyataannya, masih ada warga lereng Merapi tinggal di sana.

Ikatan emosional menjadi salah satu alasan. Selain mata pencaharian utama mereka. Seperti beternak, bertani, dan pariwisata. Tak sedikit pula yang menggantungkan hidup dari menambang pasir Merapi.

Aturan pemerintah itu juga lah yang membuat masyarakat “terlantar”. Dalam artian, bantuan secara resmi tidak bisa masuk zona merah. Pengembangan masyarakat pun terhambat.

Kondisi itulah yang menggerakkan hati pasturi Yasmin Vasthi Winnett, 30, dan Fajar Radite Syamsi, 35. Untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Terutama di sektor pariwisata dan mitigasi bencana.

Petualangan keduanya dimulai saat mereka pulang dari Kamboja. Selepas Yasmin dan Fajar menyelesaikan kerja di salah satu lembaga swadaya masyarakat.

Bukan hal wajar bagi orang-orang terpelajar seperti Yasmin dan Fajar. Untuk menghuni zona merah Merapi.

Rasa empati menjadi alasan utama mereka. Karena relokasi tak dianggap sebagai opsi terbaik. Oleh sebagian warga lereng Merapi.

Yasmin ternyata punya ikatan emosional dengan Indonesia. Ibunya adalah warga Indonesia. Bahkan Yasmin lahir di Indonesia. Hanya waktu kecil dia tinggal di Inggris.

Yasmin kembali menginjak tanah Indonesia pada 2010. Saat itu dia berstatus mahasiswi kajian Indonesia. Di School of Oriental and African Studies University of London. Dia mengikuti student exchange di Universitas Gadjah Mada.

Yasmin turut merasakan dampak erupsi Merapi. Situasi yang akhirnya menjadi titik balik bagi takdir kehidupannya. Dari situ pula dia bertemu Fajar, yang kini menjadi suaminya.

Berdua mereka bahu-membahu membangun masyarakat Merapi. Hingga pada 2015 mereka mendirikan “Sekolah Gunung Merapi (SGM)”.

Respons warga Merapi ternyata sangat bagus. Para sopir Jip menjadi siswa pertama mereka. Itu lantaran para sopir Jip sempat kebingungan melayani wisatawan mancanegara. Yang ingin melihat kondisi Merapi pasca erupsi. “Awalnya kami hanya bermodal satu tikar dan satu kursi,” kata Fajar, lulusan S2 UGM itu.

SGM kini menempati bekas bangunan SDN Pangukrejo yang hanya tinggal dinding. Mereka berusaha merenovasi gedung itu. Agar kembali layak sebagai tempat belajar. Mereka menempati bangunan itu tanpa harus membayar. Pun dengan jaringan listrik dan air. Semua ditopang oleh warga setempat.

“Ini baru selesai renovasi. Soal dananya, ada saja yang menyumbang,” ungkap Fajar seraya menunjuk bangunan sekolah bercat kuning dengan berbagai macam gambar di dinding itu.

Selain fokus mengajar bahasa Ingris, ilmu mitigasi bencana menjadi bagian “kurikulum” SGM.

Untuk operasional, mereka juga tidak menarik biaya sepeser pun dari siswa. Semua murni untuk kemanusiaan. Untuk menutup biaya operasional, Fajar mengandalkan hasil dari jasa Jip wisata.

Kehidupan mereka juga terbilang sederhana. Padahal, jika mau mereka bisa saja bekerja di mana saja. Apalagi mereka memiliki jaringan yang luas. Baik di dalam maupun luar negeri. “Kalau kami mau kaya tidak akan di sini (Merapi, Red),” tegasnya.

Untuk keperluan hidup sehari-hari, Fajar dan istrinya hanya menyisihkan hasil dari Jip lava tour Merapi. Yang sebagian hasilnya untuk operasional SGM itu.

Yasmin juga tak tinggal diam.  Bermodal biola, setiap Sabtu Yasmin ke Bungker Kaliadem. Mengamen. Hasilnya untuk jajan. “Kalau dulu Sabtu-Minggu, tapi sekarang Yasmin lebih sibuk di SGM,” ungkap Fajar.

Saat ini SGM memiliki sekitar 45 siswa. Dari jenjang SD hingga SMA. Bahkan ada mahasiswa. Pengajar mereka ada tenaga volunteer.

SGM selalu terbuka bagi siapa saja. Yang penting ada kemauan belajar. “Kemauan itu prinsip utama,” ujar Fajar yang kini resmi menjadi warga Pangukrejo. (yog/mg4)