JOGJA – Sejak pagi sejumlah 552 anak muda dari penjuru DIJ memadati area Jogja National Museum (JNM), Sabtu (2/3). Mereka merupakan peserta LA Indie Movie 2018 yang mengikuti workshop directing, cinematography, dan editing.

Event tahunan yang muncul sejak 2007 ini sempat vakum selama dua tahun terakhir. Kemudian tahun ini hadir kembali dengan konsep yang semakin kekinian dengan tema ”Your Movie Goes Digital”.

Programmer LA Indi Movie 2019 Sugar Nadia menjelaskan, tema tersebut dipilih karena dunia digital yang dinilai makin terintegrasi dalam keseharian generasi muda sekarang. Dia berharap banyak ide-ide baru untuk film yang muncul dari workshop ini. Mulai dari penulisan naskah, penyutradaraan, pengambilan gambar, penyuntingan, hingga eksibisi dan distribusi film.

”Jadi awareness buat teman-teman, memang ajangnya buat belajar film, diskusi dan konsultasi secara menyeluruh tenteng produksi film,” jelasnya pada Radar Jogja.

Sugar mengungkapkan, Jogjakarta menjadi kiblat dari komunitas dan sineas independent untuk kota-kota lainnya. Karena, lanjut Sugar, sineas atau film maker Jogja menghasilkan banyak karya dan melahirkan banyak sutradara. Selain workshop, di LA Indie Movie 2019 juga digelar story competition. Tiga naskah terbaik akan difilmkan oleh produser tanah air ternama yakni Ifa Isfansyah, Ismail Basbeth, dan Adhyatmika. Sesuai temanya, film tersebut juga akan didistribusikan melalui platform digital.

Narasumber yang turut hadir membagi ilmu dalam workshop di antaranya Mouly Surya (sutradara), Ifa Isfansyah (sutradara/produser), Agung Hapsah (content creator), Roy Lolanh (Sinematografer), Andhy Pulung (Editor Film), dan Oka Antara (aktor).

Mouly Surya dalam pemaparannya mengatakan, di era digital ini terdapat pola menonyon film yang berbeda. Karena mulai banyak platform digital seperti YouTube, Netflix, dan HOOQ.

”Biasanya gue nonton series di Netflix, kalo sebagai pembuat film, gue menonton film dari bioskop,” ujar sutradara film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak ini.

Mouly pun membagi pengalamannya dalam memprpduksi film di era digital. Ketika dia membuat film layar lebar disbandingkan ketika membuat film untuk YouTube. Jika dalam produksi film layar lebar membutuhkan kru setidaknya 100 orang dan 50 pemain, filmnya yang diunggah di YouTube dapat dia produksi seorang diri.

”Kalau bkin video digital ada banyak banget opsi sistem membuatnya, kalau buat layar lebar akan besar juga tanggung jawabnya, tapi kalau lewat gadget, cenderung lebih simple,”jelasnya. (tif/ila)