JOGJA – Bersepeda merupakan salah satu aktivitas menyehatkan yang sederhana. Tak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk melakukan. Tak hanya itu, bersepeda juga mampu menjaga kondisi lingkungan udara dari pencemaran.

Sehat, murah, dan tak mencemari udara, menjadi beberapa keunggulan yang dimiliki sepeda. Sepeda bisa menjadi alternatif kendaraan bagi masyarakat. Hal itu pula yang nampaknya kian digalakkan oleh beberapa kalangan masyarakat hingga pemerintah.

Di Kota Jogja misalnya, pemkot belum lama ini meluncurkan terobosan baru yakni JogjaBike. Fasilitas transportasi ramah lingkungan ini diyakini menjadi alternatif kendaraan yang praktis dan nyaman. Diluncurkan akhir Oktober 2018, Pemkot Jogja optimistis  di pengujung tahun akan ada 15 titik shelterpit.

Titik-titik shelterpit itu hingga saat ini tersebar di kawasan wisata Malioboro hingga Taman Pintar. Pada dasarnya, shelterpit menjadi tempat peminjaman dan pengembalian JogjaBike. Kendaraan itu bisa digunakan  masyarakat dan wisatawan untuk beragam aktivitas. Mulai dari sekolah hingga sekadar berwisata.

Caranya pun kekinian. Para pengguna hanya perlu mengunduh aplikasi JogjaBike pada ponsel pintar. Kemudian isi saldo pada aplikasi tersebut. Hanya dengan memindai (scan) barcode yang tertera pada sepeda, masyarakat langsung bisa menggunakan. Selain ramah lingkungan, murah, praktis dan nyaman, Pemkot Jogja berharap terobosan ini bisa menjadi alternatif untuk mengurangi kemacetan di kota.

Selain pemerintah, masyarakat juga tak mau kalah. Beberapa kalangan bahkan kerap mengadakan event tahunan seperti funbike. Ada juga acara Tour de Jogja yang menjadi favorit bagi para goweser. Serta kian maraknya komunitas-komunitas sepeda dari berbagai jenis.

Di kalangan generasi milenial misalnya, gaya hidup bersepeda juga kian meningkat. Melawati Nur Azizah adalah salah satu penggiat aktivitas itu. Alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini mengatakan banyak manfaat yang bisa diperoleh dari bersepeda. “Murah dan ramah lingkungan,” katanya.

Yang menjadi kendala adalah ketika turun hujan. Sebab, dia belum bisa merasa nyaman bersepeda dengan mengenakan jas hujan.  Perempuan yang akrab disapa Mela itu juga menyayangkan sikap semena-mena para pengendara lain. “Sekarang jalan raya sudah dipenuhi mobil dan motor. Jadi pengendara sepeda cukup sulit untuk mencari jalan,” katanya.

Perempuan yang gemar bersepeda itu pun menekankan pentingnya bersepeda. Terlebih untuk mengurangi pencemaran udara yang kian memprihatinkan. Sebagai kaum muda yang masih sehat fisiknya, Mela berharap banyak yang tertarik untuk beralih mengendarai sepeda.

Hal senada juga diungkapkan Tirsha Liani Irawan. Dia mengatakan gemar bersepeda meski dilakukan sesekali waktu. “Walaupun kadang capai setelah bersepeda, tapi efeknya untuk kesehatan jangka panjang,” ujar mahasiswi STIKes Madani Jogjakarta itu.

Dia pun berharap kelak kian banyak orang yang gemar mengendarai sepeda. Sebab, baginya, dengan bersepeda banyak manfaat yang akan diperoleh. (cr9/cr8/laz)