JOGJA – Akademi Kesejahteraan Sosial – Akademi Kesejahteraan Keluarga (AKS-AKK) merayakan Dies Natalis ke-46 di Kampus AKS-AKK Jalan Nitikan Baru No.69, Sorosutan, Umbulharjo, Jogja, Jumat (1/3).

Direktur AKS-AKK Jogja Dra Prihatin Saraswati, MA, mengatakan seiring dengan perkembangan dunia tata rias, tata busana, dan tata boga, kian banyak mahasiswa yang mendaftarkan diri untuk menimba ilmu di AKS-AKK.

Pada tahun ajaran 2018/2019 misalnya, terjadi peningkatan sebesar 39 persen dari tahun sebelumnya. Begitu pula dengan jumlah dosen atau pengajar di AKS-AKK. Selain itu, pihak akademi pun terus mendorong peningkatan mutu institusi dan mahasiswa.

Menjadi seorang penata rias, jelas dia, tak hanya memerlukan keterampilan secara lahir. Tapi juga harus mengedepankan attitude atau sikap. Hal itu tak hanya meningkatkan kenyamanan klien, tapi juga kredibilitas dan profesionalitas dari sang penata rias. “Karena itu, AKS-AKK berusaha menanamkan sikap, etika, atau attitude yang baik kepada para mahasiswa,” ungkapnya.

Pakar kecantikan GKRAy SM Anglingkusumo mengamininya. Saat menjadi pembicara dan narasumber dalam rangka Dies Natalis ke-46 AKS-AKK. “Pemahaman etika dan tanggung jawab itu harus ada di pemikiran kita (penata rias),” ujarnya.

Angling menekankan, menjadi seorang seniman rias wajah harus terus banyak belajar. Terkait etika diakuinya akan berpengaruh pada rasa kenyamanan para klien. Mahasiswa pun diharap tak bosan untuk memperluas wawasan khususnya dalam mengenali jenis-jenis kulit. “Sebab, kulit tidak hanya dibedakan menjadi berminyak dan tidak berminyak. Tapi ada jenis-jenis lain yang lebih kompleks,” jelasnya.

Hal itu pun tak hanya berlaku bagi mahasiswa program tata rias. Tapi juga program Boga dan Busana. Tren masyarakat yang terus berkembang juga harus diperhatikan. Mulai menjamurnya barbershop untuk pria misalnya, menunjukkan bahwa dunia kecantikan kini tak hanya berkaitan dengan perempuan. Namun juga pria. (*/cr9/pra/mg2)