Tidak ingin selalu kekurangan air tiap musim kemarau atau adanya genangan saat turun hujan, Pemkot Jogja membuat banyak sumur peresapan air hujan (SPAH) dan biopori. Lokasinya terutama di wilayah yang selama ini masih terdapat genangan air.

Trotoar di sepanjang Jalan Cik Di Tiro Jogja banyak yang “dilubangi”. Bukan sekedar membuat lubang, tapi diperuntukan sebagai SPAH. Apa fungsi SPAH?
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PUPKP) Kota Jogja Aki Lukman Nur Hakim menyebut SPAH bisa berfungsi untuk menampung air. Sehingga air hujan tidak semata-mata dialirkan ke sungai tetapi juga ditampung.

“Saluran air hujan di Kota Jogja harus berwawasan lingkungan. (SPAH) ini salah satu cara yang bisa dilakukan sehingga pada saat kemarau, persediaan air tanah di Kota Jogja tetap mencukupi,” katanya beberapa waktu lalu.

Aki menjelaskan dulu, sebelum ada SPAH, konsepnya air hujan masuk drainase kemudian langsung sungai. Tapi sekarang dengan adanya SPAH, air masuk sumur peresapan dulu kemudian baru masuk sungai. “Kami tidak akan bangun drainase lagi, tetapi kami akan tampung air hujan,” jelasnya.

SPAH biasanya akan dibangun dengan kedalaman tiga hingga empat meter atau butuh empat hingga lima buis beton. Dengan diameter 80 sentimeter. Supaya efektif, lanjut dia, SPAH akan dibuat berjarak sekitar 30 meter tiap SPAH.

Keberadaan SPAH sendiri, jelas dia, juga bisa menggantikan minimnya ruang terbuka yang bisa dipakai untuk penyerapan air hujan. Salah satunya karena alih fungsi lahan menjadi kawasan pemukiman.

“Harapannya di kawasan pemukiman itu juga bisa dibuat SPAH,” tuturnya.
Menurut dia keberadaan SPAH tersebut juga sebagai solusi disaat saluran air hujan yang ada tidak mampu menampung derasnya air hujan. Aki menyebut genangan yang terjadi di Kota Jogja biasanya memiliki kedalaman kurang dari 30 sentimeter.

“Dan biasanya sudah akan surut dalam waktu kurang dari dua jam,” katanya.
Aki menyebut keberadaan SPAH efektif mengurangi genangan air di Kota Jogja. Jika pada 2013 lalu masih ada 55 titik genangan air, hingga akhir tahun lalu tinggal tersisa 21 titik genangan. Salah satu yang menjadi PR bagi Dinas PUPKP Kota Jogja adalah genangan air di Jalan Kemasan Kotageda.
“Baru akan kami kerjakan tahun ini dengan menggunakan Dana Keistimewaan,” tuturnya.

Di kawasan Kotagede sendiri, Dinas PUPKP Kota Jogja juga sudah melakukan ujicoba dengan membuat beberapa sumur resapan bantuan dari pemerintah pusat. Hasilnya, setelah keberadaan sumur resapan yang dibuat di saluran air hujan, air sumur warga yang sebelumnya turun, naik lagi sekitar empat hingga lima sentimeter. Kondisi serupa diharapkan juga terjadi di lokasi lain.

“Lumayan itu airnya bisa naik, ada dampaknya. Soalnya kalau airnya langsung dibuang ke sungai dan penuh, nanti banjir,” ungkapnya.
Petugas juga akan melakukan pelumpuran secara rutin di SPAH yang ada karena biasanya di sumur tersebut banyak endapan lumpur dan sampah. “Kami pun ingin memberikan contoh ke masyarakat dengan membuat SPAH,” katanya.

Selain SPAH yang dibuat di saluran air hujan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja juga menggencarkan program serupa. Salah satu sasarannya ke sekolah-sekolah di Kota Jogja. Tujuannya untuk mengurangi genangan air di lokasi tersebut. Sekaligus untuk “menabung” air.

“Supaya saat musim hujan anak-anak tidak terganggu dengan genangan atau malah main air kalau ada genangan,” kata Kepala Seksi Pemantauan Lingkungan dan Limbah B3 DLH Kota Jogja Peter Lawoasal.

Nantinya jumlah SPAH yang akan dibangun di tiap sekolah, jumlahnya berbeda-beda. Tergantung luasan sekolah. Tapi untuk spesifikasi SPAH yang dibangun di lingkungan sekolah yaitu kedalaman 2,5 meter dan diameter 80 sentimeter. Tiap sekolah bisa membuat dua hingga sepuluh SPAH.

“Satu SPAH itu biayanya sekitar Rp 3,5 juta,” jelasnya.

Selain SPAH, Peter juga mengaku DLH Kota Jogja siap memfasilitasi masyarakat yang ingin membuat lobang biopori. DLH Kota Jogja, jelas dia, memiliki alat untuk membuat lobang resapan biopori. (**/cr8/pra/mg2)