JOGJA – Siapa pemrakarsa Serangan Oemoem 1 Maret (SO1M) masih jadi perdebatan. Diantaranya peran menteri Pertahanan RI saat itu Hamengku Buwono (HB) IX dan Jenderal Sudirman, yang jarang disebut. Tapi dalam sosiodrama SO1M ditunjukkan kolaborasi antara rakyat dan pejuang.

Termasuk pertemuan tokoh-tokoh penting saat itu. Mulai dari HB IX, Panglima Besar Soedirman, Letkol Soeharto dan tokoh lainnya. “Faktanya serangan tersebut mampu mencuri perhatian internasional. Dunia mengakui bahwa Indonesia saat itu masih eksis sebagai sebuah negara. Ini karena masih memiliki tentara yang awalnya diklaim Belanda telah hilang,” jelas Ketua Umum Djokjakarta 1945 Eko Isdianto seusai peringatan SO1M di titik nol kilometer, Minggu(3/3).

Menurut dia, berdasarkan kajian sejarah, lokasi pertempuran terjadi di Benteng Vredebur, Hotel Toegoe dan Hotel Garuda. Eko menuturkan pemilihan titik serangan atas pertimbangan matang. Kala itu delegasi dari PBB dan wartawan asing menginap di Hotel Toegoe.

“Pejuang yang turut menyerang juga pandai berbahasa asing. Tujuannya agar bisa langsung memberikan keterangan bahwa tentara nasional dan pemerintahan Indonesia masih ada,” katanya.

Sedang Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Aris Eko Nugroho menilai peristiwa SO1M menjadi tonggak kedauluatan Indonesia. Pasca pendudukan relawan dan tentara Indonesia selama enam jam, mata dunia terbuka. Hasilnya Belanda membuka kembali pintu perundingan dan bersedia pergi dari Indonesia.

Peristiwa tersebut juga menjadi bukti bahwa jiwa NKRI kuat. Tidak hanya pemimpin militer, aksi juga melibatkan rakyat hingga sosok HB IX. Seluruhnya bersatu padu untuk kedaulatan Indonesia dan mengusir penjajah.

“Pasca proklamasi Indonesia masih dibayang-bayangi Belanda karena merasa masih memiliki hak. Dibuktikanlah dengan SO1M bahwa Indonesia masih berdaulat. Indonesia benar-benar merdeka tanpa campur tangan Belanda pasca peristiwa (SO1M),” ujarnya.

Sedang terkait upaya Pemprov DIJ menjadikan peringatan SO1M sebagai hari besar nasional mendekati final. Tindak lanjut surat Gubernur DIJ 31 Oktober sudah direspon dengan pertemuan antara Kementerian pertahanan dengan Dinas Kebudayaan DIJ.

“Senin kemarin (25/2) beberapa teman sudah ketemu dengan pihak Kementerian Pertahanan. Intinya saat ini masih menunggu,” jelasnya mantan Kepala Bidang Anggaran dan Belanja DPPKA DIJ itu.

Berlokasi di utara titik nol kilometer, teatrikal berlangsung sejak pukul 08.00. Diawali dengan masuknya penduduk yang berjualan di pasar. Selang waktu datangnya serdadu Belanda memporakporandakan lokasi tersebut. (dwi/pra/mg2)