BANTUL – Suasana Pantai Parangkusumo Minggu (3/3) tak seperti biasanya. Terasa khidmat. Itu seiring dengan ribuan umat Hindu di DIJ mengikuti ritual Melasti. Salah satu ritual sebelum Hari Nyepi ini bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga.

”Melasti untuk menghanyutkan kotoran di alam semesta dan diri manusia menggunakan air kehidupan,” jelas Ketua Panitia Hari Raya Nyepi DIJ I Made Astra Tanaya sebelum ritual Melasti dimulai.

Ya, arti pembersihan jiwa dan raga itu tersurat dari makna Melasti. Di mana istilah Melasti berasal dari dua kata. Yaitu, mala yang berarti kotoran. Lalu, Lasti yang bermakna membuang.

Ritual pembuangan segala kotoran ini ditandai dengan pelarungan banten atau sesajian ke laut. Made berharap umat Hindu melalui Melasti ini memiliki sifat Catur Dharma. Umat yang yang memiliki pengetahuan dan saling peduli dengan umat seagama maupun antarumat beragama.

Menurutnya, rangkaian Hari Nyepi Tahun Saka 1941 akan dilanjut dengan Mepepade Nyukat Karang. Ritual yang digelar hari ini bertempat di Pura Jagatnatha.

”Kemudian, ritual Tawur Kesanga di Candi Prambanan pada 6 Maret. Rencananya dihadiri Presiden Joko Widodo,” ujarnya.

Umat Hindu, kata Made, menaruh harapan besar dengan pelaksanaan Pemilu 2019. Mereka berharap pesta demokrasi lima tahunan itu berjalan sejuk dan damai. Harapan itu terlihat dengan tema perayaan Nyepi tahun ini. Yakni, Melalui Catur Barata Penyepian Kita Sukseskan Pemilu 2019.

”Itu (tema) sebagai upaya umat Hindhu untuk mendinginkan suhu politik yang sedang panas saat ini,” katanya. (cr5/zam/mg4)