JOGJA – Bayangkan jika barang-barang dari luar negeri masuk tanpa pengawasan. Mungkin industri kita akan hancur. Neraca perdagangan makin deficit. Ekonomi anjlok, kas negara terkikis. Barang-barang yang berbahaya bagi manusia, masyarakat dan lingkungan seperti, sabu-sabu, senjata api, limbah, media pembawa penyakit akan masuk dengan bebas. Alam rusak, generasi rusak, keamanan terganggu.

Kontrol atau seleksi atas pilihan kebutuhan dan ketersediaan barang-barang yang beredar dan dikonsumsi masyarakat menjadi hal yang mutlak dilakukan. Di sinilah salah satu peran Bea Cukai sebagai penjaga perbatasan. Untuk mengawasi dan mencegah masuknya barang-barang yang dilarang atau perlu izin agar keadaan ekonomi terjaga, perdagangan dan industri membaik, barang-barang yang dilarang atau berbahaya tidak masuk ke Indonesia.

Tugas berat yang dijalankan bea cukai dalam mengamankan dan menyelamatkan bangsa dan negara dari hancurnya industri, sendi-sendi ekonomi dan perdagangan hanya akan berhasil ketika aparaturnya mempunyai integritas yang luar biasa. Menyadari arti pentingnya integritas, pada Rabu lalu (27/2) Bea Cukai Jogja melakukan Deklarasi Pencanangan Pembangunan Zona Integritas (ZI) Menuju Wilayah Bebas Dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Dan Melayani (WBK dan WBBM).

Pada kesempatan deklarasi, Oce Madril, Direktur Advokasi Pusat Kajian Antikorupsi UGM, menyampaikan paparan tentang arti penting pencanangan Zona Integritas. “Integritas harus dinampakkan, karena memang Indonesia sampai dengan tahun 2018 masih mempunyai masalah akut di bidang korupsi.” katanya. Diuraikan bahwa aspek tata kelola di pemerintahan terhadap korupsi, gratifikasi, suap, dan pungutan liar masih sangat kurang. Inilah alasan pentingnya penerapan Zona Integritas di instansi pemerintahan.