JOGJA Setelah menempuh perjalanan panjang selama 20 jam dengan China Airlines, Tim Honda DBL Indonesia All-Star 2018 tiba bandara internasional Ontario, California, AS, Rabu (21/2) siang pukul 1 siang waktu setempat (05.00 WIB). Sederet agenda pun siap dieksekusi satu demi satu. Apa saja yang mereka lakukan selama satu minggu di negeri Paman Sam? Seperti yang mereka bayangkan atau tidak perjalanan All-Star kali ini?

Belum ada tim asal Indonesia (baik level tim sekolah maupun tim nasional,Red) yang pernah ikut turnamen nasional resmi di USA (Amerika Serikat), dimana pesertanya berafiliasi dengan Amateur Athletic Union of the United States (AAU).

AAU adalah organisasi yang mempromosikan dan membangun program olahraga, kesehatan jasmani di level pelajar sekolah. Organisasi ini merupakan yang terbesar dan terbaik di AS. Mereka secara rutin menggelar liga tim basket sekolah maupun klub umum dengan standar penyelenggaraan yang tinggi. Dan menjadi peserta turnamen Dtermine Your Destiny di Get It Done Sports Arena di Corona, California adalah salah satu agenda mereka.

Setelah tiba di bandara internasional Ontario, California, AS, mereka diajak keliling kota Los Angeles, termasuk mengunjungi Hollywood Walk of Fame. Menikmati padatnya trotoar fenomenal “bertabur bintang” Hollywood Walk of Fame di Hollywood Boulevard. Termasuk melihat persiapan Dolby Theatre yang tengah berbenah untuk menggelar Piala Oscar (saat itu).

Setiba di LA, mereka harus menghadapi suhu udara dan jetlag. Bulan Februari, AS masih menghadapi musim dingin yang ekstrem. Suhu udara lebih rendah dari biasanya. Normalnya, suhu udara di bulan seperti ini terjaga di kisaran 10-18 Celsius. Namun kali ini suhu merosot di kisaran 13 derajat celcius saat siang hari, dan 5 derajat celcius di malam hari. Kondisi ini menyulitkan skuat all-star.

Kamis pagi (Jumat, 22 Februari jam 1 malam WIB) sebelum latihan, tim All-Star mampir ke Griffith Observatory di perbukitan Hollywood. Yaitu salah satu observatorium, planetarium, dan sekaligus tempat pameran sains terkemuka di AS.

Kemudian dilanjut latihan bersama James Hunt di Expo Center yang ada di gedung Los Angeles Swimming Stadium, kawasan Exposition Park, Los Angeles. James Hunt ini basketball skills trainer terkenal di AS. Sudah 15 tahun melatih pebasket dari segala background, termasuk pemain dan coaching staff NBA.

“Pemain sekelas Shaquille O’Neal aja mempercayakan anaknya agar bias dilatih oleh James Hunt. All Star dilatih selama tiga jam,” kata Manager tim Honda DBL Indonesia All-Star 2018 Yondang Tubangkit.

Secara umum James Hunt menilai, tim Honda DBL Indonesia All-Star 2018 selama sesi latihan sangat baik. Meski hampir di setiap station selalu dimulai dengan berbagai kesalahan penerapan teknik, namun mereka bekerja keras untuk memperbaiki itu.

Usai latihan, tim all star mengunjungi Staples Center, markas klub basket NBA Los Angeles Lakers. Dan malam itu Los Angeles Lakers berhadapan dengan Houston Rockets.

Esok harinya, tanggal 23 Februari mereka kembali berlatih di tempat berbeda dengan fasilitas latihan milik legenda basket dunia Kobe Bryant di Kawasan Thousand Oaks, California. Mereka juga dijadwalkan jalan-jalan sore di Melrose Avenue, sebuah kawasan perbelanjaan dekat Hollywood Boulevard.

Di Mamba Sports Academy (MSA) kawasan Thousand Oaks, mereka dilatih oleh Dee Pinkard, AJ Moye, Jonathan Davis, dan Hannah Ascencig. Latihan tetap berada pada koridor pakem MSA: menumbuhkan ‘Mamba Mentality’ pada setiap atlet.

Konsep pelatihan itu diadaptasi dari pemiliknya, Kobe Bryant, legenda NBA dari klub Los Angeles Lakers. Mereka ingin tim All-Star memiliki mental seperti Kobe: selalu mengejar potensi terbaik melalui kerja keras, keputusan cerdas, dan tidak pernah beralasan.

Mereka juga diajak nonton laga NCAA Division 1 Basketball antara University of Oregon melawan University of California Los Angeles (UCLA) pukul 7 malam di basket hall kampus UCLA.

Advance training terakhir mereka selesaikan, 25 Februari. Mereka mendapat ilmu dan pengalaman tersebut dari Jordan Lawley, pelatih basket para pemain (dan legenda) NBA, di Asics Sports Performance Center, Irvin, California, AS.

“Saya minta kalian mengapersiasi teman kalian. Apresiasi dan semangati setiap usaha yang mereka lakukan. Beri tepukan di kepala, punggung, atau pantat mereka. It’s okay. Apresiasi kamu akan membuat dia menjadi lebih baik,” ujar Jordan Lawley saat membuka latihan.

Latihan sore itu berlangsung singkat. Hanya dua jam.

Pelatihan dari Jordan Lawley memang begitu spesial. Selain materinya bagus, dia juga melatih tim para bintang itu dengan pesonanya: teriakan apresiatif, senyum charming, komunikasi yang simpel, dan tantangan seru. Tidak ada kesan menekan. Apalagi menyeramkan.

“Begini, saya punya kewajiban untuk membuat pemain yang saya latih paham dengan semua materi yang diberikan. Nah cara terbaik agar mereka bisa paham adalah dengan membuat mereka merasa nyaman. Jadi, saya harus interaktif,” kata pelatih personal legenda NBA Steve Nash itu.

Dan hari terakhir, (26/2) tim Honda DBL Indonesia All-Star 2018 mendapatkan hadiah dari DBL Indonesia seperti yang telah dijanjikan oleh Founder & CEO DBL Indonesia Azrul Ananda sehari sebelum keberangkatan mereka ke AS pada 20 Februari lalu. Hadiah atas keitimewaan tim itu berupa jalan-jalan ke Disney California Adventure Park, Anaheim, Amerika Serikat. (wir/vnk/man/mg2)