SLEMAN – Pada dasarnya, semua manusia punya kecenderungan yang sama. Yakni, suka pamer. Kosa kata ini menjelaskan keinginan untuk menunjukkan dirinya telah mencapai atau memiliki sesuatu yang minimal sama dengan orang lain atau lebih dari orang lain.

Kadang orang malu-malu untuk memamerkan kehebatan dirinya. Sebab, dia sadar ada manusia lain yang lebih hebat dari dirinya. Namun, alam bawah sadar manusia mendorongnya untuk melakukan tindakan atau perbuatan yang sebetulnya masuk kategori pamer. Pamer apa saja sebetulnya bukan suatu hal yang jelek karena keinginan (nafsu) itu bersifat alami dan manusiawi.

Barang kali Anda pun akan tersenyum kecil menyaksikan pesta kecil wisudawan di banyak restoran pascawisuda, sambil makan dan berpeluh-peluh toga serta topi kebesaran wisudawan tetap dikenakan. Sebuah kebanggaan yang pantas mereka pamerkan. Sangat manusiawi.

Tentu saja suasana kebatinan para wisudawan ini dimanfaatkan pengusaha restoran yang cerdik, dengan memasang panggung kecil dengan background gedung utama kampus terebut. Ini agar pelanggan yang ditarget bisa berswafoto ria. Sebuah layanan yang berbiaya murah tapi menarik untuk dikunjungi para wisudawan.

Memang benar, kesukaan pamer itu bisa berlebihan sekadar untuk menunjukkan dirinya beda dengan yang lain dan menjadikan seseorang hidup berbiaya mahal dan boros. Dengan biaya berapa pun akan dilakukan, sejauh seseorang yakin bisa memperoleh sesuatu yang diinginkan.

Keinginan menjadi lebih baik ataupun berbeda akan mendorong seseorang berani berinvestasi dan tak ragu membayar berapa pun harga suatu yang diinginkan. Libido seseorang menjadi pendorong meraih prestasi dan bekerja giat mencari uang agar bisa membayarneed-nya

Keinginan manusia yang ingin selalu berbeda dan pamer pencapaian prestasi itu pun sangat dipahami oleh industri wisata di seluruh dunia. Bahkan, sudah lama para perancang destinasi wisata mengeksploitasi ego manusia tersebut menjadi kemasan atraksi wisata yang tak lagi menampilkan bangunan atau monumen suatu bangsa sebagai objek wisata.

Wisatawan tidak dibiarkan sebagai penonton yang pasif tetapi menjadi individu yang terlibat dalam aktivitas secara aktif. Tiap wisatawan tak hanya ingin melihat orang membatik tetapi ingin terlibat aktif ikut membatik dengan seluruh prosesnya.

Tiap orang tidak hanya ingin melihat kebun buah kiwi ataupun apel. Tetapi, ingin terlibat dalam proses panen sampai prosesnya. Bahkan, mereka diajak ikut membajak di sawah pun bahagia, karena punya pengalaman yang berbeda, dan sangat elok untuk pamer pada sobatnya.

Kecenderungan perubahan perilaku wisatawan itu sebetulnya sudah terdeteksi sejak awal abad ke-21 dan sudah dipresentasikan dalam setiap bursa wisata terbesar di dunia: ITB Berlin. Generasi wisatawan muda dunia sudah tak tertarik lagi dengan pola melihat sembari jalan-jalan ke 9 Keajaiban Dunia. Mereka lebih menginginkan eksplorasi ke sisi dunia yang lain.

Mereka melihat sisi dunia yang lebih eksotis dibanding keajaiban dunia yang telah dikenalnya. Meski Borobudur itu maha karya yang sangat luar biasa, tetapi mereka lebih tertarik menyaksikan sunrise di Borobudur dari pada mengagumi relief candi tersebut.

Banyak negara yang sadar terhadap tren perubahan wisata dunia. Tetapi, di negeri ini masih jalan ditempat, bertahan pada produk lama keindahan alam dan warisan budaya masa lalu. Singapura adalah negara pulau yang luas wilayahnya sangat kecil, diam-diam membangun atraksi wisata imajinasi dan science fictions untuk pasar generasi milenial. Bahkan, mereka tak segan mengundang investor untuk membangun Universal Studios dengan areal yang tak terlalu luas.

Sementara di negeri kita yang punya lahan yang sangat luas, tak tersentuh untuk membangun pusat wisata dengan pendekatan mutakhir. Bukan hanya membangun tapi harus dipasarkan melalui jaringan wisata dunia agar mampu menggaet wisatawan dunia yang berkelas.

Memang benar, bisnis wisata itu mengundang manusia dari manapun untuk menyaksikan atraksi wisata yang disuguhkan. Artinya, wisatawan pun mengenal strata atau kelas wisatawan. Ada wisatawan klas backpacker, ada pula wisatawan kelas jetstar, yang semuanya itu bergantung target pasar yang diinginkan. Setiap klaster kemampuan belanjanya berbeda-beda.

Demikian pula wisatawan asing akan berbeda dengan yang domesik. Artinya, kalau kita ingin membangun pusat wisata atau membangun destinasi wisata baru, harus pula menyadari target kelas wisata mana yang akan dituju. Sekali memilih, investasi itu tak mengenal sikap ambigu karena ambiguitas justru akan menghasilkan kegagalan.

Pertarungan persaingan bisnis pariwisata antarnegara maupun antarkawasan itu sebetulnya harus disikapi dengan strategi yang dirancang dengan baik yang melibatkan kebijakan negara maupun jaringan pebisnis pariwisata. Sering kali rancangan strategis yang dibentuk institusi pemerintahan itu pun menunjukkan ambiguitas yang tinggi. Punya target muluk-muluk dua juta turis asing berkunjung ke Borobudur tiap tahun, tetapi kapasitas bandara jauh di bawahnya.

Demikian juga jalan akses ke Borobudur yang selalu padat merayap dan tak menarik para wisatawan asing pun menjadi penghambat. Itu semua menunjukkan ambiguitas dalam membangun bisnis pariwisata. Sebab, sebuah bisnis harus dikembangkan secara total dan tak boleh secara partial.

Tanpa kita sadari, zaman yang selalu berubah itu membawa selera wisata anakĀ  milenial pun jauh berbeda dari generasi di atasnya. Bukan saja mereka ingin melihat objek wisata yang sudah lama dikenal. Tetapi, mereka ingin belajar dan mengenal lebih dalam masyarakat pemilik budaya lokal.

Mereka ingin mendapat sesuatu yang imajinatif untuk membangun dirinya sendiri dan sekaligus ingin memperoleh pengakuan dalam perjalanan wisatanya. Semua itu tidah mudah untuk mengemas dalam kontes produk wisata dan bisnis yang mengitarinya.

Kalau kita ikuti perjalanan sang waktu, muncul istilah perubahan zaman yang menegaskan dari waktu ke waktu lingkungan hidup kita ini selalu berubah. Jika tidak mengikuti perubahan, siapapun manusia akan menjadi ketinggalan bagai manusia masa lalu yang lingkungan hidupnya menjadi primitif.

Dunia wisata pun mengalami perubahan dan akan selalu berubah sesuai dengan cara pandang masyarakat dunia yang selalu berpikir ke depan. Perubahan selalu menuntut pembaruan infrastruktur dan tentu membutuhkan biaya yang tidak kecil dan harus dianggarkan oleh pemerintah maupun pelaku bisnisnya. Investasi dalam perubahan itu memang harus. (amd/mg2)