SLEMAN – Kabupaten Sleman telah siap mengerjakan pekerjaan padat karya infrastruktur yang bersumber dari APBD DIY Tahun Anggaran (TA) 2019. Kesiapan itu menurut Anggota Komisi D DPRD DIY Muhammad Yazid diketahui setelah Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY menggelar sosialisasi di sejumlah tempat.

“Masyarakat menyambut positif dan sangat siap mengerjakannya,” ujar Yazid, Selasa(5/3).

Sosialisasi Kegiatan Padat Karya Infrastruktur 2019 berlangsung sejak Februari lalu. Dari total anggaran sebesar Rp 8.385.000.000 (delapan miliar tiga ratus delapan puluh lima juta rupiah), Kabupaten Sleman mendapatkan alokasi Rp 1,4 miliar. Rencananya, dana tersebut digunakan membiayai padat karya infrastruktur yang tersebar di 11 lokasi.

“Setiap lokasi anggarannya sebesar Rp 129 juta. Di Sleman semuanya digunakan untuk cor blok jalan sepanjang 450 meter,” terangnya.

Adapun 11 lokasi yang menjadi sasaran padat karya infrastruktur itu tersebar di Kecamatan Godean, Moyudan, Berbah dan Kecamatan Mlati. Rinciannya di Godean ada 5 titik,  Moyudan (3), Berbah (2) dan Mlati (1).  Sedangkan lokasinya meliputi Dusun Kuwagon, Sidorejo, Godean, Krajan, Sidoluhur, Godean dan Dusun Sawahan, Sidomoyo, Godean.

Kemudian Dusun Kuton, Tegaltirto, Berbah dan Dusun Maredan, Sendangtirto, Berbah. Berikutnya Dusun Gatak, Sumberagung, Moyudan, Semingin, Sumbersari, Moyudan dan Dusun Krandon, Sumberagung, Moyudan. Sasaran lainnya berada di Dusun Jodag, Sumberadi, Mlati, Sleman dan Potrowangsan, Sidoarum, Godean serta Dusun Pare IV, Sidorejo, Godean.

Yazid mengatakan, seluruh pembiyaaan kegiatan padat karya infrastruktur itu berasal dari APBD DIY TA 2019. Dana tersebut diberikan kepada pemerintah kabupaten dan kota se-DIY melalui mekanisme bantuan keuangan khusus (BKK). “Dananya langsung ditransfe dari provinsi ke kabupaten dan kota,” terang Yazid.

Diingatkan, kegiatan padat karya infrastruktur ditujukan empat hal. Yakni pemberdayaan masyarakat penganggur, setengah penganggur, masyarakat miskin dan masyarakat rentan. Masyarakat rentan terdiri atas korban pemutusan hubungan kerja (PHK), mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan lainnya. “Masyarakat rentan rata-rata latar belakangnya pendidikan SD hingga SLTP,” ujar anggota dewaan asal Moyudan, Sleman ini.

Kegiatan padat karya infrastruktur di setiap lokasi menyerap 52 tenaga kerja. Total pekerja yang terserap  di lima kabupaten dan kota se-DIY mencapai 3.380 orang.  Yazid optimistis melalui kegiatan padat karya infrastruktur itu memberikan dampak positif di masyarakat. Khususnya mendorong peningkatan perekonomian masyarakat. Terutama di kantong-kantong kemiskinan

“Padat karya infrastruktur itu juga dapat mengurangi jumlah penganggur, setengah penganggur dan masyarakat miskin,” lanjut dia.

Yazid berpandangan, padat karya infrastruktur memiliki peran penting dala mendorong semangat kerja produktivitas warga. Padat karya infrastruktur diyakini membuat masyarakat  lebih berdaya. Pertimbangannya kegiatan tersebut berasal dari, oleh dan untuk masyarakat.

“Usulannya langsung dari masyarakat. Pengerjaannya juga dilakukan masyarakat. Tidak boleh diborongkan kepada pihak ketiga,” ingat dia.

Pekerjaan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu. Atau di musim sepi kerja. Sifat pekerjaan memberikan penghasilan langsung kepada penganggur dan setengah penganggur.

Tenaga kerja yang terlibat meliputi penganggur, setengah penganggur dan masyarakat miskin. Mereka berasal dari sekitar lokasi kegiatan. Tidak ada tuntutan ganti rugi dari masyarakat atas tanah, pohon atau tanamannya yang terkena lokasi kegiatan padat karya. Pengerjaannya menggunakan peralatan teknologi sederhana. “Tidak menyewa atau menggunakan alat berat,” jelas Yazid. (kus/mg2)