Berawal dari menyukai ikan, Briptu Romi Eka Saputra kini memiliki usaha sampingan. Beternak lele. Romi berhasil menyulap lahan kosong dan kolam ikan yang ada di Gedongan Sinduadi Mlati Sleman menjadi peternakan lele.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman

Hiruk pikuk di Jalan Padjajaran atau Ring Road Utara Jombor seketika hilang begitu masuk ke kampung Gedongan. Apalagi saat berada di belakang rumah Romi Eka Saputra. Suara berganti dengan gemercik air di kolam-kolam yang ada.

Di kolam-kolam tersebut, Bintara Administrasi Biro Logistik Polda DIJ itu beternak lele. Sejak September 2018, Romi berinisiatif untuk memelihara ikan dalam jumlah besar. Dia memulai beternak lele khusus untuk dikonsumsi. Cara perawatan lele yang diketahui Romi, dipelajarinya secara otodidak.

Dengan luas pekarangan 396 meter persegi, Romi mencoba untuk menyalurkan hobinya. Berawal dengan memasang enam kolam dengan ukuran berdiameter 1,5 dan 2,5 meter. Mengambil bibit lele dengan panjang 5-9 sentimeter di wilayah Bantul dan Kulonprogo. Kemudian mengembangkannya selama tiga bulan sampai siap untuk dipanen.

Setiap kolam, mampu diisi 2.000 sampai 2.500 ekor lele. Kolam kecil dengan diameter 1,5 meter, akan diisi sebanyak 2.000 ekor bibit lele. Setelah satu bulan lamanya, lele akan disortir sesuai dengan ukuran dan dipindahkan ke kolam yang lebih besar.

Dibantu dengan pamannya, Romi merawat usahanya sendiri. Mulai dari memberi makan, membersihkan kolam, sampai dengan penjualan. Meskipun saat ini hasil panen lele masih dijual kepada tengkulak. Dengan harga Rp 17.000 ribu per kilogram. Karena tidak adanya waktu untuk menjual secara langsung kepada penjual di pasar tradisional. “Tengkulak dari Piyungan dan dia akan memanen sendiri kesini,” jelas Romi kepada Radar Jogja.

Romi mengaku, 20 kolam miliknya tidak secara serentak diisi dengan bibit lele. Memberikan selang waktu selama satu bulan untuk setiap kolam, Romi memiliki tujuan panen yang dilakukan bisa dilakukan setiap bulannya.
Di panen pertama, pria 28 tahun itu tidak mendapatkan untung sama sekali.

Yang ada malah buntung. Itu karena ketidak tahuan Romi tentang pemberian pakan. Pelet dengan harga tinggi dipilih Romi untuk lele miliknya. Dengan kandungan vitamin yang lebih, Romi berpikiran lele akan tumbuh dengan sehat. Namun, yang didapat malah keuntungan nol persen karena biaya tinggi di pakan.

Kini Romi mulai menemukan formulasi untuk pakan lele. Mencampurkan probiotik dengan pelet dan didiamkan selama semalam, ampuh untuk membuat lele tumbuh dan sehat. Selain itu, pemilihan pelet yang berbeda sesuai panjang ukuran lele juga sangat diperhatikan. “Dengan campuran itu, jadi tidak perlu kerja dua kali untuk memberi pelet dan vitamin untuk lele,” tambahnya.

Kendala lain juga kerap dirasakan oleh Romi. Lele yang stres dan tidak nafsu makan akan menggantung dan tegak lurus. Hal ini dikarenakan adanya jamur yang dibawa oleh bibit yang jelek dan air yang kotor. Untuk adanya jamur, Romi melakukan penanganan dengan memeberikan obat anti jamur. Atau dengan memberikan garam grosok yang dicampurkan pada air kolam selama sehari.

Dan tidak memberi makan lele selama satu hari. “Selain itu, setiap hari pengurangan air kolam sebanyak 10 sentimeter juga dilakukan untuk membuang kotoran yang ada dan mengisi kembali dengan air yang baru,” ucap Romi. Dengan modal awal pembuatan kolam sebesar Rp 25 juta rupiah, kini Romi mampu meraup keuntungan bersih sebanyak Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per 2.000 ekor lele yang dipanen. Setiap panennya paling sedikit 5.000 bibit.

Tidak sampai disitu, kedepannya Romi ingin memanfaatkan lahan yang masih tersisa untuk pemijahan dan pendederan lele. Untuk pemijahan, Romi masih menunggu lele yang dimilikinya siap untuk dilakukan pemijahan. Dengan berat lele minimal delapan ons sampai dua kilogram. “Meski butuh usaha yang lebih, jika pemijahan berhasil mampu menghasilkan 30.000 bibit lele dari sepasang indukan,” ungkapnya. (pra/mg4)