JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X kerap memperhatikan tingkah laku pengendara di jalan raya. Terutama saat berpapasan di tengah jalan ketika HB X melakukan perjalanan dinas atau berkendara di jalanan.

Salah satu yang disayangkannya ketika peralihan lampu bangjo atau alat pemberi isyarat lalulintas (APILL) dari kuning ke merah. Dalam jeda waktu sepersekian detik pengendara justru memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. “Bukannya berhenti malah dibanterke ben ra keno lampu abang. Ojo ngebut, harusnya hati-hati mengurangi kecepatan bukan menambah kecepatan,” katanya dalam Millennial Road Safety Festival 2019 di Titik Nol Kilometer, Minggu pagi (10/3).

Ayah lima puteri itu berpesan agar pengendara bijak selama di jalan raya. Karena mereka di jalan raya tidak sendiri. Wejangan ini bertujuan agar semua pengendara menjaga keselamatan. Tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga pengguna jalan raya lainnya.

Jogjakarta, lanjutnya, ada kota yang santun akan tata krama. Setidaknya itu juga harus tercermin dalam berperilaku di jalan raya. Bukan mengedepankan ego pribadi namun semangat berbagi. “Jalan raya itu bukan untuk balapan. Tapi bagaimana berkendara dengan aman dan selamat sampai rumah. Kendaraan sekarang memang penuh teknologi, tapi (pengendara) yang harus menguasai bukan sebaliknya,” pesannya kepada puluhan ribu peserta MRSF 2019.

Sedang Kapolda DIJ Irjen Polisi Ahmad Dofiri mengungkapkan 55,6 persen korban atau pelaku kecelakaan jalan raya adalah usia muda. Berdasarkan data Korlantas Polri, presentase didominasi rentang usia 15 sampai 35 tahun. Dari jumlah tersebut 28,2 persen berstatus pelajar dan mahasiswa.

Catatan ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi jajarannya. Untuk menurunkan angka kecelakaan dari tahun ke tahun. Terlebih pelaku maupun korban dengan usia muda. Ini karena rentang usia tersebut adalah aset bangsa Indonesia dalam beberapa tahun kedepan.

Sebagai penegak aturan, jajarannya hanya bisa menyentuh sisi terluar. Sementara untuk kesadaran tertib berkendara tetap datang dari setiap individu.
“Kalau kami terus lakukan tindakan preventif, preemtif hingga represif tapi pengendaranya tidak sadar akan percuma. Justru terkuat dari diri sendiri untuk taat dan tertib berkendara di jalan raya,” jelasnya.

Kemeriahan MRSF 2019 berlangsung sejak pagi hari. Diawali dengan colossal dance dan fun walk. Menjelang siang hari, Cita Citata dan Ayu Ting Ting menghibur pengunjung yang hadir. Dipandu oleh Tukul Arwana, grup musik Guyon Waton menutup acara dengan klimak.

Kemeriahan ini juga tercatat dalam buku rekor dunia MURI. Berupa pemecahan rekor tandatangan terbanyak dalam bentangan kain sepanjang 1,8 kilometer. Sebanyak 24.530 tanda tangan terkumpul sebagai deklarasi keselamatan berkendara. “(Deklarasai tandatangan) Ini juga salah satu bukti bahwa komitmen keselamatan berkendara cukup tinggi. Kalau pengunjung yang datang sekitar 100 ribu. Dari kupon yang kami bagikan semuanya ludes habis,” ujar mantan Kapolresta Jogja itu. (dwi/pra/mg4)