Siapa saja berhak menjadi anggota dewan, asal memenuhi syarat dan perolehan suaranya cukup menuju kursi parlemen. Mengaku modal nekat, tukang sol sepatu di depan Pasar Argosari, Wonosari, ini buka-bukaan cara menggaet pemilih.

GUNAWAN, Gunungkidul

Meski menyandang sebagai calon legislatif (caleg), tukang sol sepatu bernama Dwi Handoko ini tak mengubah penampilannya. Lapaknya tetap sama dengan teman seprofesi. Tak ada branding apa-apa yang mengisyaratkan bahwa ia adalah calon wakil rakyat.

Pria asli Gunungkidul yang berdomisli di Kampung Bogor, Desa Playen, Kecamatan Playen, ini juga terang-terangan mengaku tidak tahu tugas pokok dan fungsi (tupoksi) anggota dewan. “Modal nekat,” kata Dwi saat ditemui Radar Jogja beberapa waktu lalu.

Sepanjang yang diketahui, wakil rakyat menyuarakan aspirasi masyarakat. Menyambung dan membuka sekat-sekat agar harapan masyarakat dapat diperjuangkan. Mimpinya jadi anggota dewan adalah bermanfaat bagi banyak orang. “Semangat politik saya terus berkobar walau tidak ada duit,” ucapnya.
Meski terlihat lugu, dia adalah pengurus organisasi keagamaan besar di Indonesia yakni Muhammadiyah. Dianugerahi dua anak dan mulai ‘mentas’. Anak pertama sudah lolos calon pegawai negeri sipil (CPNS), dan yang bontot sedang skripsi.

“Uangnya ya dari sini (usaha sol sepatu, Red). Anak-anak sudah kerja dan sedang skripsi,” ucapnya.

Lalu, bagaimana cara meraih suara terbanyak? Dwi mengaku berasal dari daerah pemilihan (dapil) satu, Wonosari, Playen, dan Semanu. Pihaknya memetakan satu per satu potensi perolehan suara, namun juga tahu diri dengan modal.

Media sosialisasi paling murah, menurutnya, adalah tatap muka langsung dengan calon pemilih, terutama langganan sol sepatunya. “Dengan keterbatasan dana, malah saya tidak canggung dalam bersaing sehat bersama caleg lainya. Apalagi saat memperkenalkan diri, malah pelanggan sol tertawa,” ucapnya.
Sebagai buktinya, lanjut Dwi, dengan penghasilan Rp 80 ribu per hari ia mampu mengangkat derajat anak-anaknya dengan sekolah tinggi. Dia menyadari, perjuangan untuk meraup suara bakal sulit, karena modal yang dimiliiki sangat pas-pasan.

Namun dia optimistis bisa melenggang menuju kursi DPRD Gunungkidul. “Seseorang biasanya mencalonkan diri (sebagai legislatif) dikenal dengan kemampuan ekonomi di atas rata-rata. Buktinya saya biasa saja,” ungkapnya.

Apakah hanya itu modalnya untuk jadi caleg? Dwi dengan tegas menjawan ‘tidak’. Posisinya sebagai pengurus organisasi Muhammadiyah dimaksimalkan. Setiap beberapa hari sekali mengikuti pengajian rutin.
Dari situlah dia mengajak para jamaah untuk berdiskusi mengenai pencalegan yang dia lakukan.

“Tapi ya bukan acara pengajian diisi dengan kampanye. Sejauh ini tidak ditegur Bawaslu,” terangnya.

Ditanya apakah itu sudah cukup, dia menggeleng. Sebagai caleg dia juga getol tandem dengan caleg provinsi maupun pusat untuk memperkenalkan diri kepada warga. “Saya tidak membuat baliho atau rontek, cukup dengan stiker kecil ditempel di beberapa tempat,” bebernya.

Menurutnya, upaya yang sedang dilakukan sebagai bukti bahwa politik tidak selalu identik dengan uang. Terpenting adalah diukur dari kualitas sumber daya manusia (SDM).

Dalam Pemilu 2019 ini, pihaknya menargetkan sebanyak 2.500 suara. Hanya memang asal suara terbesar diharapkan dari organisasi keagamaan yang dia ikuti. Potensi lain diharapkan bisa ‘mentes’ atas sosialisasi yang dilakukan dengan tatap muka. (laz/tif)