JOGJA РPuluhan orang berduyun-duyun mendatangi Bale Tanjung Kantor Kepatihan Jogjakarta. Kedatangan mereka  membawa tumpeng. Ratusan warga kawasan Malioboro itu mengucap syukur atas berkah selama ini.

Mengenakan pakaian tradisional Jawa, para anggota Forum Lintas Komunitas Malioboro membawa serta 80 tumpeng. Tak hanya tumpeng nasi kuning, adapula nasi gurih dan nasi biasa. Lengkap dengan ingkung dan sayur mayur.

“Ini adalah wujud syukur kami atas berkah selama mencari rejeki di kawasan Malioboro. Kenapa merti, karena sekaligus ajakan warga Malioboro bersama-sama merawat kawasan ini,” jelas Ketua FLKM Edi Susanto, Selasa(12/3).

Tidak hanya wujud syukur, acara ini sekaligus jadi ajang bertukar pikiran. Terkait penataan kawasan Malioboro. Salah satu harapannya para pedagang tetap bisa berjualan di Malioboro.

Edi menuturkan pengembangan kawasan Malioboro sejalan dengan visi misi FLKM. Menjadi daya tarik wisata dengan mengedepankan kawasan pedestrian. “Penataan baik dari Pemkot maupun Pemprov akan selalu kami dukung. Mempertahankan ciri khas Malioboro yang telah melekat saat ini. Ditambah dengan pengembangan fasilitas yang telah ada,” ujar Ketua Komaba itu.

Sesuai semangatnya, tumpeng tidak hanya dinikmati sendiri. Usai didoakan,  80 tumpeng ini dibawa ke kawasan pedestrian Malioboro. Satu persatu pengunjung yang melintas mendapat bagian kuliner khas ini. Rangkaian Merti Malioboro, FLKM membacakan deklarasi anti hoaks. Tadi malam di komplek Kepatihan, juga digelar wayang kulit dengan dalang Ki Seno Nugroho.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti yang turut hadir meminta warga Malioboro berkomitmen dalam menjaga kondusifitas dan kenyamanan lokasi wisata ini. Dia juga menjamin, setiap proses penataan yang dilakukan di kawasan Malioboro tidak pernah meninggalkan aspirasi komunitas. “Malioboro tetap Malioboro, adaptasi perubahan itu perlu. Tapi ada satu yang dipertahankan, yaitu keramahannya,” kata HS.

Dia juga meminta Merti Malioboro menjadi agenda rutin. Selain sebagai daya tarik juga wujud kebersamaan antar warga Malioboro. Semboyan yang diusung adalah guyub, rukun dan gayeng. Adapula semangat bersih, tertib dan aman. “Wujudkan keindahan Malioboro sesuai dengan ciri khas Jogja. Menjadi jujugan wisata baik oleh wisatawan nusantara maupun luar negeri,” ujarnya. (dwi/pra/mg2)