JOGJA – Rombongan sepeda motor datang dari sisi barat menuju simpangempat Gedongkuning. Mendekati titik temu, rombongan diberhentikan oleh personel Polisi.

Bukannya melambatkan kendaraan, rombongan justru memacu gas semakin kencang. Bahkan beberapa diantaranya menabrakan diri ke polisi. Sedetik kemudian kericuhan pecah saat peserta pawai mengeluarkan senjata tajam. Petugas Polresta Jogja pun mengeluarkan tembakan peringatan untuk mengamankan situasi.

Tak berapa lama wilayah perbatasan Kota Jogja dengan Kabupaten Bantul itu sudah kembali kondusif. Rombongan pemotor tersebut hendak ke Kota Solo karena terjadi chaos di sana. Itulah gambaran simulasi sistem pengamanan kota (Sispamkota) yang digelar Polresta Jogja di kawasan Gedongkuning.

Kapolresta Jogja Kombespol Armaini menuturkan giat ini koordinasi lintas Polres. Untuk wilayahnya terfokus pada kawasan perbatasan. Selain Gedongkuning, juga Jalan Magelang perbatasan dengan Sleman, kawasan jalan Affandi, depan Pasty jalan Bantul, Menukan dan Giwangan

“Fokus kami menjaga kelompok dari dalam kota Jogja keluar. Menghalau agar tetap terkonsentrasi di dalam kota untuk menghampiri sumber kericuhan,” jelasnya ditemui usai giat Sispamkota Gedongkuning, Rabu (13/3).

Giat simulasi ini tak ubahnya kejadian riil. Setting suasana memang menyerupai kejadian aslinya. “Bagaimana wujud penanganan langsungnya, koordinasi antar kesatuan hingga pengamanan pembuat onar,” kata Kabag Ops Polresta Jogja Kompol Adji Hartato.

Sispamkota ini juga bertujuan menyekat sumber kericuhan dari luar. Inilah mengapa penempatan personel berada di kawasan perbatasan. Adji menuturkan koordinasi berlangsung antar Polres hingga jajaran Polda.

“Adapula koordinasi antar Polda Jateng dan DIJ. Karena dalam simulasi kali ini, sumber chaos berada di Solo. Jogjakarta mengantisipasi agar tidak kericuhan yang masuk ataupun keluar (wilayah Jogjakarta),” katanya.
Giat ini juga langkah antisipasi internal Kota Jogja. Berdasarkan data Mabes Polri, Jogjakarta merupakan salah satu titik rawan penyelenggaran Pemilu 2019.

“Rentan gesekan antar simpatisan beberapa parpol. Tapi tidak perlu dikhawatirkan karena sudah ada langkah antisipasi dengan pendekatan ke tokoh-tokohnya,” ujar Armaini.

Polresta lanjutnya telah memetakan sejumlah titik rawan. Kesepaktan juga dibuat antar simpatisan maupun pengurus parpol. Salah satunya adalah kesepakatan tidak melintas kawasan rawan.

“Mereka sepakat patuh untuk saling menghargai. Potensi kericuhan memang ada tapi tidak sampai membesar dan menjadi gangguan,” katanya. (dwi/pra/mg1)