JOGJA – Ketua RT 22 Tegalrejo Heru Kuswanto mengakui budaya konsumsi mihol di tempatnya masih tinggi. Hanya saja ada kesapakatan bersama dalam wilayahnya. Apabila ada warga konsumsi mihol akan dilaporkan ke kepolisian.

”Minumnya jenis ciu, sekitar 15 orang dan dua korban meninggal itu warga RT saya. Kesepakatannya memang itu (ketahuan konsumsi dilaporkan polisi), tapi memang tidak mudah karena konsumsinya memang cukup tinggi dan kadang ndelik-ndelik,” jelasnya.

BACA; Pesta Mihol Tiga Hari Berturut-turut, Tiga Nyawa Melayang Sia-Sia

             Sebelum Minum Oplosan, Makan Daging Babi dan Anjing

Dua korban meninggal dunia dari wilayahnya adalah Sugiyahartono, 37 dan Kandarwarsono, 48. Heru menuturkan, kedua tetangganya ini memang kerap konsumsi mihol. Tidak hanya warga wilayahnya, pesta mihol itu juga diikuti warga luar Tegalrejo.

Pesta mihol sendiri berlangsung sejak Selasa pagi (12/3). Lokasi berpindah-pindah, dari di Janten, pemancingan Pencar, lanjut di Tegalrejo, kemudian di Jagalan Ngampilan. Sementara korban mulai bertumbangan Jumat (15/3).

”Kalau analisa dokter kemarin dari minumannya itu. Memang sempat makan daging babi yang sudah mati lalu diolah, tapi tidak tahu apakah juga berdampak. Karena proses dampaknya jeda beberapa hari,” ujarnya. (dwi/laz/ong)