SALAH SATU hajat nasional yang tak lama lagi akan digelar Pemerintah diantaranya Ujian Nasional (UN), yang sejak 2014/2015 lalu bertransformasi menjadi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Pelaksanaannya pun akan bertahap, yaitu 25-28 Maret untuk jenjang SMK, 1-8 April untuk jenjang SMA/MA, dan 22-25 April untuk jenjang SMP/MTs. Menurut data resmi Kemdikbud lewat laman www://unbk.kemdikbud.go.id/ pada tahun 2018/2019 ini ada 78.058 sekolah peserta dan 7.072.508 siswa peserta dari berbagai jenjang SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK.

Beberapa tahun terakhir ini ”grade” UN memang mulai bergeser. Kedudukannya tak lagi menjadi faktor penentu kelulusan siswa di sekolah. Tepatya sebagai alat untuk mengetahui pemetaan kualitas pendidikan secara nasional. Lebih lanjut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Efendi, mengungkapkan bahwa UN bukan saja sebagai alat evaluasi kemampuan siswa. Namun lebih daripada itu sarana mengembangan kemampuan kreativitas (creativity skill) dan kemampuan berpikir kritis (critical thingking skill) siswa.

Meskipun demikian, dengan semakin banyaknya jumlah peserta tentunya tak akan melemahkan kedudukan UN. Peningkatan kualitas pendidikan secara nasional juga tetap menjadi pijakan utama Pemerintah pada pelaksanaan UN tahun ini. Diprediksi UN akan menjadi sebuah ajang ‘pertaruhan sengit soal gengsi’ dan pertaruhan prestasi siswa, keluarga, sekolah, serta daerah. Hal ini tak dapat dielakkan, mengingat setiap siswa, keluarga siswa, sekolah dan daerah ingin menyandang citra dan predikat terbaik dalam proses dan hasil kualitas pendidikan di akhir masa studinya.

Niat yang baik haruslah diwujudkan dengan cara yang baik pula. Upaya mewujudkan pertarungan sehat dalam UN sudah sepatutnya dilakukan dengan cara-cara bermoral dengan tetap mengedepankan nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dari sila pertama hingga sila kelima harus dapat diaplikasikan atau dijabarkan dalam setiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup (Soejadi, 1999).

Salah satu nilai yang termaktub dalam Pancasila misalnya nilai kejujuran. UN yang ditempuh siswa, sekolah, bahkan daerah harus mampu mengaktualisasikan nilai kejujuran. Kejujuran sebagai energi utama pendidikan, harus menjadi penyemangat untuk semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan UN. Jangan terperdaya dengan berita adanya bocoran kunci jawaban ataupun saling contek dalam pengerjaan UN.

Justru kepahitan yang akan diterima bilamana nilai UN bagus namun penuh kecurangan dan tipu daya. Ketika kehilangan kekayaan, Anda tidak kehilangan apa-apa. Ketika kehilangan kesehatan, Anda kehilangan sesuatu. Ketika kehilangan karakter, Anda kehilangan segala-galanya (Billy Graham). Tentunya, hal ini justru akan mereduksi kesakralan pendidikan itu sendiri.

UN harus diposisikan sebagai ujian kejujuran untuk semua pihak. Ruh pendidikan justru ada dalam semangat kejujuran yang berperan sebagai pondasi dan harus dihadirkan pada dunia pendidikan. Kejujuran harus menjadi dasar bagi seluruh dimensi kualitas kedirian jati diri bangsa yang maju, cerdas, dan berdaya saing global.

Lebih lanjut, Sutrisna Wibawa (2017) mengungkapkan tentang nilai karakter Pancasila menjadi unsur penting dalam sebuah pendidikan. Nilai-nilai karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek, semuanya harus dijiwai oleh imtaq kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Pendidikan sejatinya memiliki dua misi utama, yakni transfer ilmu pengetahuan dan transfer nilai. Nilai-nilai karakter dapat dilihat dalam empat dimensi. Pertama, olahpikir, yang bertujuan agar seseorang cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, berpikir terbuka, produktif, berorientasi ipteks, dan reflektif; kedua, olahraga, agar seseorang bersih dan sehat, disiplin, sportif, tangguh, handal, berdaya tahan, kompetitif, dan gigih; ketiga, olahhati, agar seseorang beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, bertanggungjawab, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik; serta keempat, olah rasa/karsa, agar seseorang ramah, saling menghargai, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja.

Jangan sampai Pancasila hanya berhenti pada jargon dan seremoni belaka. Nilai-nilai Pancasila merupakan nilai-nilai yang selaras dengan ajaran agama-agama yang di Indonesia. Pengamalan dan implementasi Pancasila dalam setiap aspek kehidupan adalah kuncinya, termasuk dalam pelaksanaan UNBK. Jika nilai-nilai Pancasila benar-benar diamalkan dan diimplementasikan, tidak mungkin optimisme bangsa ini akan mampu menjadi bangsa yang makmur, sejahtera, damai, harmonis, sekaligus maju. Mari bersama wujudkan UNBK tahun ini dengan mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan nilai Pancasila sebagai harapan akan terwujudnya kemajuan intelektual dan moral bangsa. Semoga. (ila)

*Penulis merupakan guru pada MTs Darul Ishlah Sukorejo, Kabupaten Kendal dan Fasilitator pada Program PINTAR Tanoto Foundation Regional Jawa Tengah