JOGJA – Program studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) Fisipol UMY bertekad meraih sertifikasi Asian University Network-Quality Assurance (AUN-QA). Langkah awal dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) penyusunan kompetensi lulusan Prodi IP UMY.

FGD berlangsung di ruang Sidang Fisipol Kampus UMY Jalan Brawijaya, Geblakan, Tamantirto Kasihan Bantul Jogjakarta Sabtu (16/3). Kegiatan dibuka langsung oleh dekan Fisipol UMY Dr Titin Purwaningsih SIP MSi. Adapun peserta dari FGD ini berasal dari para pelaku partai politik, pelaku pemerintahan yaitu birokrasi pemerintah, daerah dan desa, hingga juga komisi intermediary.

FGD sendiri akan dilaksanakan dalam tiga gelombang. Gelombang pertama dilaksanakan dengan mengundang beberapa narasumber terkait. Yaitu mereka yang memang terkait dan bekerja di bidang politik, pelaku pemerintahan, dan komisioner intermediary.

SERIUS : Para pakar dari berbagai profesi membahas kompetensi yang harus dimiliki alumni IP UMY supaya bisa bersaing di dunia kerja. (RAMBU PRIHATIN/RADAR JOGJA)

Selepas pembukaan, acara dilanjutkan dengan pembagian peserta kegiatan dalam tiga kelompok dan sekaligus diambil alih oleh moderator. Secara berurut, masing-masing kelompok, baik kelompok partai politik, kelompok intermediary, dan kelompok birokrasi, dimoderatori oleh Dr Suswanta MSi, Dr phil Al-Hamdi, dan Dr Dyah Mutiarin MSi

Kepala Prodi IP Fisipol UMY, Dr Muhammad Zaenuri MSi mengatakan FGD sebagai upaya prodi IP untuk meningkatkan mutu atau kualitas pembelajaran. Menurut dia perlu adanya learning outcame yang jelas bagi alumni prodi IP UMY. “Karena dalam penyusunan kurikulum itu, tidak seperti zaman dulu bebas aja, tetapi harus dasarkan pada kebutuhan stakeholder,” jelasnya.

Menurut Zaenuri, untuk penyusunan learning outcome itu sendiri, diperlukan informasi seputar stakeholder. Juga bagaimana cakupan profil lulusan IP UMY.
“Hasil dari tracer study menunjukkan bahwa lulusan IP UMY banyak tersebar di berbagai lembaga dan posisi. Diantaranya seperti pelaku politik, pelaku pemerintahan (birokrasi), komisioner intermediary, akademisi, konsultan, peneliti, dan pegawai swasta hingga wiraswasta,” paparnya.

Melalui FGD, peserta diharapkan dapat memberikan masukan baik secara langsung maupun tidak langsung terkait kompetensi yang harus dimiliki ditempat kerja masing-masing. Mulai dari knowledge, skill, dan softskill.
“Tentang kompetensi apa yang harus dipunyai lulusan IP UMY khususnya apabila mereka bekerja di tiga kelompok stakeholder ini,” jelasnya.

Zaenuri berharap tercapainya tujuan dari FGD ini yakni untuk merumuskan dan menyusun kompetensi yang harus dimiliki lulusan IP UMY. Yang meliputi kompetensi utama, seputar knowledge, kompetensi pendukung atau skill, dan juga kompetensi lainnya berupa softskill. Agar dapat mengembangkan human relation di tempat kerja.

“Masing-masing kelompok stakeholder akan memberi masukan dan dipandu oleh moderator. Selain itu, peserta juga akan diberi kesempatan untuk berdialog guna mempertajam masukannya,” urainya.

Menurut Zaenuri, peningkatan kurikulum ini juga sejalan dengan tujuan untuk mendapatkan sertifikasi internasional. Dalam hal ini AUN-QA. Apalagi prodi IP sendiri sudah tiga kali berturut-turut mendapat akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

“Namun sebelum mencapai ini, sebelum melangkah ke arah sana, UMY harus mendaftar sebagai associate member,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Zaenuri menjelaskan jika setiap perguruan tinggi, per tahun hanya bisa mendaftakan empat program studi. Tahun ini, dari UMY program studi yang akan diajukan adalah prodi IP, prodi Manejemen, prodi Teknik Sipil, dan prodi Agroteknologi.

Harapannya proses sertifikasi ini berjalan lancar sehingga nantinya lulusan IP tidak hanya bersaing di Indonesia tetapi di juga di Asia. “Ya, nanti mahasiswa kita diharapkan dapat berkiprah di Asia, minimal Asia Tenggara,” harapnya. (*/mg/pra/mg2)